Bluebird
| Jenis | Perseroan terbatas terbuka |
|---|---|
| BEI: BIRD | |
| IndustrI | Transportasi |
| Pendiri | Mutiara Siti Fatimah Djokosoetono |
Wilayah yang dilayani | Indonesia |
| Produk |
|
| Merek |
|
| Situs web | www |
PT Blue Bird Tbk (berbisnis dengan nama Bluebird Group) adalah sebuah perusahaan transportasi Indonesia yang berkantor pusat di Jakarta Selatan. Untuk mendukung kegiatan bisnisnya, hingga akhir tahun 2021, perusahaan ini memiliki lebih dari 20.000 armada dan 23.000 karyawan yang beroperasi pada 48 pool di 18 kota.[1][2]
Sejarah
[sunting | sunting sumber]Mendirikan taksi gelap
[sunting | sunting sumber]Djokosoetono (1903–1965) adalah seorang pakar hukum Indonesia yang memberikan kontribusi besar dalam bidang pendidikan, di antaranya mendirikan Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) serta Akademi Hukum Militer (AHM). Selain memiliki peran tersebut, ia juga dipercaya untuk menjabat sebagai dekan pertama Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Meskipun memegang berbagai jabatan terpandang dan menempati posisi penting di ranah akademik maupun hukum nasional, Djokosoetono bersama istrinya, Mutiara Siti Fatimah, beserta anak-anaknya tetap memilih untuk hidup sederhana di kediaman mereka yang terletak di Jalan H.O.S. Cokroaminoto, Jakarta.[3][4]
Benih kewirausahaan dalam keluarga ini sudah mulai tumbuh sebelum Djokosoetono meninggal pada 6 September 1965. Mutiara Siti Fatimah bersama kedua putranya, Purnomo Prawiro dan Chandra Suharto, memulainya dari usaha kecil, yakni berjualan telur. Kegigihan dan hasil dari bisnis sederhana tersebut akhirnya membuahkan hasil pada tahun 1962, ketika berhasil membeli sebuah bemo murah yang diperoleh dari Departemen Perindustrian. Bemo tersebut kemudian diserahkan kepada Purnomo dan Chandra untuk mengangkut penumpang di rute Harmoni–Kota, yang menjadi pengalaman awal dalam mengelola moda transportasi umum.[4]
Titik balik perjalanan bisnis transportasi keluarga ini terjadi sepeninggal Djokosoetono. Sebagai bentuk apresiasi atas jasa dan pengabdiannya, para mahasiswa serta kolega dari PTIK dan AHM memberikan hadiah berupa dua unit mobil sedan kepada Fatimah, yakni satu unit mobil Opel dan satu unit Mercedes-Benz. Menghadapi situasi ekonomi keluarga serta tanggung jawab membiayai tiga anak yang belum menyelesaikan kuliahnya—Purnomo, Chandra, dan Mintarsih—Fatimah berinisiatif mengumpulkan mereka dan mengusulkan agar kedua mobil tersebut dimanfaatkan menjadi kendaraan umum. Berawal dari ide tersebut, berdirilah bisnis armada transportasi bernama Chandra Taksi yang pada saat itu masih beroperasi sebagai taksi non-resmi atau taksi gelap. Tidak hanya berperan sebagai pengelola, Purnomo dan Chandra bahkan turun langsung menyetir mobil-mobil tersebut untuk melayani penumpang.[5]
Bisnis transportasi ini menghadirkan sebuah inovasi layanan yang menjadi cikal bakal kesuksesan mereka di kemudian hari. Purnomo dan Chandra merumuskan model bisnis yang tergolong baru pada zamannya, yakni sistem pemesanan taksi melalui telepon. Armada akan langsung menjemput penumpang di lokasi asal dan mengantarkannya sampai ke tujuan. Konsep taksi carteran ini dengan cepat meraih popularitas tinggi di tengah masyarakat Jakarta era 1960-an, mengingat pada masa itu kepemilikan mobil pribadi masih terbatas dan kebutuhan akan transportasi yang nyaman serta praktis terus meningkat.[4]
Menjadi taksi resmi berizin
[sunting | sunting sumber]
Langkah pengembangan bisnis keluarga Djokosoetono tidak selalu berjalan mulus dan sempat berhadapan dengan regulasi ketat yang diterapkan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Saat menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin menerbitkan kebijakan untuk memberantas keberadaan taksi gelap dengan mewajibkan penggunaan argometer bagi seluruh taksi yang beroperasi di Jakarta hingga kawasan Bandar Udara Internasional Soekarno–Hatta. Dalam peraturan tersebut, setiap perusahaan angkutan umum diwajibkan mengantongi izin resmi serta memenuhi batas minimum kepemilikan armada sebanyak 100 unit mobil. Regulasi ini menjadi hambatan besar bagi usaha keluarga Djokosoetono yang kala itu hanya memiliki 60 unit mobil, sehingga permohonan izin operasional mereka sempat ditolak oleh Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Raya (DLLAJR) DKI Jakarta.[6]
Demi memenuhi persyaratan jumlah armada dan melegalkan bisnisnya, Mutiara Siti Fatimah berjuang mencari jalan keluar dengan menemui seorang mantan murid Djokosoetono yang bekerja di Bank Bumi Daya. Berbekal koneksi dan kartu nama dari murid tersebut, Fatimah mengajukan pinjaman dana ke bank untuk menambah jumlah unit mobil yang dibutuhkan. Setelah persyaratan jumlah armada terpenuhi, izin usaha resmi akhirnya berhasil terbit.[6][4] Berlandaskan kelengkapan izin tersebut, tepat pada tanggal 1 Mei 1972, taksi Blue Bird—yang digambarkan oleh penulis Alberthiene Endah sebagai taksi berwarna biru dengan logo burung melesat—mulai beroperasi dan mengaspal di jalanan Jakarta, sementara operasional Chandra Taksi tetap dipertahankan dan namanya diubah menjadi Golden Bird.[7]
Persaingan bisnis transportasi pada era tersebut terbilang sangat kompetitif karena Blue Bird harus berhadapan dengan sejumlah pemain besar lainnya di Jakarta. Perusahaan-perusahaan taksi seperti Gamya, Ratax, Morante, Steady Safe, Royal City, Sri Medali, hingga taksi kuning President turut memperebutkan pasar armada umum.[8][9] Bahkan, PT Morante Djaya, yang menaungi taksi dengan jenama Morante, telah lebih dahulu memelopori pengoperasian taksi berizin yang menggunakan sistem argometer sejak 10 Februari 1972.[10] Meski hadir di tengah kompetisi yang ketat, reputasi dan manajemen Blue Bird berhasil membawanya tumbuh pesat, terbukti dari peningkatan jumlah armada yang mencapai 500 unit pada tahun 1978 dan melonjak hingga melampaui 2.000 unit armada pada tahun 1985.[4]
Seiring bertambahnya skala bisnis, Blue Bird terus berinovasi mengekspansi jangkauan layanannya untuk menyasar segmen pasar yang lebih luas. Momentum penting terjadi pada tahun 1992 saat Indonesia dipercaya menjadi tuan rumah penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi Gerakan Non-Blok ke-10. Pada perhelatan internasional tersebut, pihak swasta diundang untuk berpartisipasi menyediakan sarana transportasi bagi para tamu kehormatan dari negara-negara anggota. Memanfaatkan peluang besar ini, Blue Bird merilis armada merek Silver Bird yang dirancang khusus untuk melayani kebutuhan transportasi para delegasi. Setelah KTT GNB usai, Silver Bird tetap dipertahankan dan dikembangkan sebagai lini layanan taksi kelas eksekutif hingga sekarang.[8]
Dekade 2000-an–sekarang
[sunting | sunting sumber]
Memasuki milenium ketiga, Blue Bird melakukan konsolidasi struktur organisasi. Perusahaan ini resmi memperoleh status badan hukum sebagai perseroan terbatas pada 29 Maret 2001, yang menjadi landasan kuat bagi ekspansi jangka panjangnya. Sebelas tahun kemudian, dilakukan restrukturisasi besar-besaran dengan membentuk 15 anak usaha untuk menjalankan berbagai lini kegiatan bisnis. Puncak dari transformasi korporat ini terjadi pada 5 November 2014, ketika perusahaan ini melantai di Bursa Efek Indonesia melalui Penawaran Umum Perdana (IPO). Keberhasilan melantai di bursa melipatgandakan ruang gerak Blue Bird untuk terus berinovasi, salah satunya dibuktikan pada tahun 2015 dengan meluncurkan Blue Bird MPV sebagai pelopor layanan taksi berbasisMulti-Purpose Vehicle pertama di Jakarta.[11][12]
Menghadapi pesatnya era digitalisasi dan perubahan perilaku konsumen, Blue Bird melakukan transformasi teknologi secara menyeluruh untuk menjaga keunggulan kompetitifnya. Pada 2016, diluncurkan aplikasi MyBlueBird yang mengakomodasi sistem pembayaran nontunai guna meningkatkan kemudahan serta kenyamanan pengguna. Komitmen adaptasi digital ini diperkuat pada tahun 2017 melalui kolaborasi dengan penyedia platform ride-hailing GO-JEK (sekarang Gojek), yang memungkinkan pengguna aplikasi tersebut untuk memesan armada taksi Blue Bird secara langsung. Tak berhenti di situ, pada tahun 2018 fitur Fixed Price diperkenalkan di aplikasi MyBlueBird untuk memberikan transparansi kepastian tarif sebelum pemesanan dilakukan. Pada tahun yang sama, kepemimpinan perusahaan di industri transportasi diapresiasi oleh Menteri Pariwisata yang menetapkannya sebagai Wonderful Indonesia Service Ambassador, serta kerja sama dengan Bank BTN untuk memfasilitasi pembiayaan perumahan bagi para karyawan.[11][12]

Tahun 2018 juga ditandai dengan perubahan identitas visual saat perusahaan memodifikasi namanya dari Blue Bird menjadi Bluebird pada 6 Juni 2018, bersama seluruh jenama lainnya dalam grup Bluebird yang menggunakan akhiran -bird, lengkap dengan pembaruan logo burung yang kini melesat ke arah kanan pengamat.[13] Seiring penyesuaian identitas tersebut, Bluebird memperluas layanannya dengan meluncurkan angkutan komuter dari dan menuju Bandar Udara Internasional Soekarno–Hatta yang juga diintegrasikan dengan platform Traveloka melalui pemesanan layanan armada Bigbird serta Goldenbird.[11][12] Ekspansi berlanjut tahun 2019 ketika Bluebird secara resmi mengakuisisi Cititrans—sebuah perusahaan bus antar-jemput—dengan nilai akuisisi mencapai Rp115 miliar.[14]
Selain melakukan akuisisi, Bluebird menjalin kemitraan strategis dengan MUFG untuk mendirikan PT Balai Lelang Caready yang bergerak di bidang lelang kendaraan,[15] serta meluncurkan program Kawan Bluebird guna memperluas jangkauan wilayah ke Daerah Istimewa Yogyakarta melalui kerja sama dengan koperasi taksi Pataga. Pada Mei 2019, Bluebird mulai mengoperasikan armada taksi listrik untuk unit Bluebird dan Silverbird, menyinergikan teknologi Internet of Things (IoT) pada armadanya bersama Telkomsel, serta mengintegrasikan dompet digital DANA ke dalam aplikasi MyBluebird. Pada 2020, Gojek secara resmi membeli 4,3% saham Bluebird dari PT Pusaka Citra Djokosoetono dengan nilai transaksi mencapai Rp411 miliar, sehingga mengokohkan sinergi kedua raksasa transportasi tersebut.[16]
Manajemen
[sunting | sunting sumber]Perusahaan manajemen ini diantarannya sebuah komisaris dan direktur Bluebird saat ini yang ada ketemui di sini adalah sebagai berikut ini
Komisaris
- Komisaris Utama : Bayu Priawan Djokosoetono
- Wakil Komisaris Utama : Sri Adriyani Lestari
- Komisaris : Kresna Priawan Djokosoetono & Gunawan Surjo Wibowo
- Komisaris Independen : Rinaldi Firmansyah, Budi Setiyadi, Setyo Wasisto, dan Alamanda Shantika
Direktur
- Direktur Utama : Adrianto Djokosoetono
- Wakil Direktur Utama : Sigit Priawan Djokosoetono
- Direktur Independen : Irawaty Salim[17]
Kendaraan
[sunting | sunting sumber]Perusahaan ini dikenal dengan empat layanan transportasi darat, diantaranya, Bluebird dengan taksi reguler maupun khusus, Silverbird dengan taksi eksekutif yang tersedia di wilayah Jabodetabek[a], layanan kendaraan rental, Goldenbird, layanan penjualan mobil bekas, BirdMobil, layanan penyewaan bus, Bigbird, dan layanan antar-jemput serta bus antarkota, Cititrans.
Taksi reguler (Bluebird)
- BBM & BBG
- Honda Mobilio (Gas, hanya untuk wilayah Jabodetabek[f] dan Sarbagita[g])
- Toyota Avanza Transmover
- Toyota Kijang Innova Zenix[f]
- Honda BR-V (Hanya untuk wilayah Jabodetabek[f], Sarbagita[g], Bandung Raya, dan Kota Balikpapan–IKN Nusantara)
- Toyota New Transmover
- Listrik (Hanya untuk wilayah Jabodetabek[f], Sarbagita[g], dan Kota Balikpapan–IKN Nusantara)
- BYD E6 (Hanya untuk wilayah Jabodetabek[f], Bandung Raya, Mebidang, Surabaya–Gresik–Sidoarjo, Sarbagita, dan Mamminasata)
- BYD T3
- Toyota Prius PHEV
- Hyundai Kona
Taksi khusus (Bluebird)
- Nissan Serena (Gas)
- Toyota Voxy (Gas)
Taksi eksekutif (Silverbird) (hanya untuk wilayah Jabodetabek[f])
- Toyota Alphard dan Toyota Alphard Hybrid
Mobil dan limosin sewa (Goldenbird)
- Mobil
- Toyota Avanza
- Toyota Innova Reborn
- Toyota Innova Zenix dan Toyota Innova Zenix Hybrid
- Hyundai Ioniq 6 (Listrik)
- BMW IX (Listrik)
- Limosin
Bus sewa (Bigbird)
Pada 16 Maret 2011, Kementerian Perhubungan Republik Indonesia memberikan penghargaan loyalitas 30 tahun berkarya dalam sejarah transportasi bus kepada Bigbird.[18]
- Bus berukuran besar: Mercedes-Benz OH 1626
- Bus berukuran medium: Mercedes-Benz OF9 17
- Bravo: Isuzu NQR
- Charlie: Toyota HiAce
- Delta: Isuzu Elf
Cititrans
- Layanan antar-jemput
- Toyota HiAce
- Mercedes-Benz Sprinter
- Layanan bus antarkota
- Hino RM280
- Mercedes-Benz OH 1626
Logistik (Ironbird)
- Mercedes-Benz Axor
- Isuzu Giga
- Mitsubishi Canter
Bluebird Group juga telah berkembang lebih jauh ke bisnis lain seperti logistik, industri properti, pariwisata, alat berat, dan layanan konsultasi TI.
- Catatan
- ↑ Disupervisi oleh Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek
- ↑ Hanya Kelurahan Bahagia, Babelan Kota, dan Kebalen
- ↑ Hanya kawasan Kota Harapan Indah (Pusakarakyat), Babelan[b], Tambun Selatan, Cibitung, dan Kota Cikarang
- ↑ Hanya mencakup kawasan Sentul City (Babakan Madang), Kecamatan Gunung Putri, Cibinong, Bojonggede, Tajurhalang, Kemang, Parung, Institut Pertanian Bogor (Dramaga), Sukaraja, dan Cileungsi
- ↑ Hanya mencakup kawasan PIK 2 (Kosambi dan Teluknaga), seluruh Kecamatan Kelapa Dua, Legok, Curug, Pagedangan, dan Cisauk
- 1 2 3 4 5 6 Hanya mencakup DKI Jakarta, Kab. Bekasi[c], Kota Bekasi, Kota Depok, Kab. Bogor[d], Kota Bogor, Jawa Barat, Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan, dan Kab. Tangerang, Banten[e].
- 1 2 3 Hanya mencakup Kecamatan Abiansemal, Kuta, Kuta Selatan, Kuta Utara, Mengwi (Kabupaten Badung), Kota Denpasar, dan Kabupaten Gianyar
Pada budaya populer
[sunting | sunting sumber]Kehadiran Blue Bird sebagai ikon transportasi di Jakarta tidak hanya tercatat dalam sejarah ekonomi, bisnis, dan transportasi Indonesia, tetapi juga meresap ke ranah budaya populer Indonesia sejak 1970-an. Salah satu rekam jejak populernya dapat dilihat dalam sebuah film komedi Indonesia garapan Warkop DKI berjudul Mana Tahaaan... yang dirilis pada tahun 1979.[4] Dalam film tersebut, armada taksi Blue Bird dihadirkan sebagai bagian integral dari kehidupan masyarakat Jakarta pada masa itu, ketika salah satu anggotanya, Indro, memerankan karakter seorang pengemudi taksi Blue Bird.[19]
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref>tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama "annual" - ↑ "Sejarah Perusahaan". PT Blue Bird Tbk. Diakses tanggal 22 Januari 2022.
- ↑ Nasution 2004, hlm. 124.
- 1 2 3 4 5 6 Matanasi, P. "Sejarah Blue Bird Bermula dari Taksi Gelap". Tirto.id. Diakses tanggal 2022-08-23.
- ↑ Endah 2012, hlm. 47.
- 1 2 Sadikin 1993, hlm. 131 dan 232.
- ↑ Endah 2012, hlm. 130.
- 1 2 Andryanto, S. Dian, ed. (2021-11-22). "Taksi Konvensional Dari Masa Ke Masa, President Taxi hingga Silver Bird". Tempo.co. Diakses tanggal 2022-08-23.
- ↑ Endah 2012, hlm. 118.
- ↑ Kompas (2017-02-10). "Taksi dengan Taksimeter". Kompas.id. Diakses tanggal 2022-08-25.
- 1 2 3 Go Blue Bird, Bentuk Kemesraan Baru Gojek dan Blue Bird
- 1 2 3 Saat Gojek Rogoh Rp 411 M Demi Secuil Saham Blue Bird
- ↑ Dinisari, Mia Chitra (2018-06-06). Dinisari, Mia Chitra (ed.). "Bluebird Ganti Logo Baru". Bisnis.com. Diakses tanggal 2022-08-23.
- ↑ Ekspansi Blue Bird Beli Shuttle Cititrans Rp 115 M
- ↑ Blue Bird Buka Bisnis Lelang Mobil Bekas
- ↑ Basari, M. Taufikul (2020-02-21). Sudarwan, Ilman A. (ed.). "Gojek Resmi Jadi Pemegang Saham Blue Bird (BIRD)". Bisnis.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-06-11.
- ↑ Damayanti, Aulia. "Direktur Blue Bird Ada yang Resign, Ini Susunan Direksi yang Baru". detikfinance. Diakses tanggal 2022-11-10.
- ↑ "10 PERUSAHAAN BUS DAPATKAN PENGHARGAAN LOYALITAS Kementerian Perhubungan Republik Indonesia". dephub.go.id. Diakses tanggal 2025-11-15.
- ↑ Meiliani, Melly. "Foto: Wujud Armada Taksi Pertama Blue Bird, Holden Torana 1972". Kumparan. Diakses tanggal 2022-08-25.
Daftar pustaka
[sunting | sunting sumber]- Endah, A. (2012). Sang Burung Biru: Perjalanan Inspiratif Blue Bird Group. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. ISBN 9789792284980.
{{cite book}}:|ref=harvtidak valid - Nasution, A.B. (2004). Pergulatan Tanpa Henti. Vol. 1. Jakarta: Aksara Karunia. ISBN 9799790379.
{{cite book}}:|ref=harvtidak validPemeliharaan CS1: Status URL (link) - Sadikin, A.; Hadimadja, R.K. (1993). Bang Ali: Demi Jakarta (1966–1977). Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. ISBN 9789794161654.
{{cite book}}:|ref=harvtidak valid; Kutipan memiliki paramater tidak diketahui :|1=Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
Pranala luar
[sunting | sunting sumber]- (Indonesia) Situs web resmi