Poliglotisme
Poliglotisme adalah kemampuan menuturkan beberapa bahasa dengan sangat mahir. Belum ada kesepakatan mengenai berapa banyak bahasa yang harus dikuasai seseorang agar bisa disebut poliglot. Ada yang menetapkan "empat atau lebih", karena penutur dua atau tiga bahasa biasanya disebut dwibahasa (bilingual) dan tribahasa (trilingual). Istilah multibahasa juga mirip dengan poliglot.
Ahli bahasa Richard Hudson memakai kata "hiperpoliglot" untuk menyebut orang yang fasih berbicara dalam enam bahasa atau lebih.[1]
Kemampuan belajar
[sunting | sunting sumber]Salah satu fakta yang beredar luas adalah saat belajar pada usia dini, seseorang dapat bergantung pada karakteristik yang tertanam dalam perkembangan otak secara alamiah, yaitu daya ingat yang luar biasa untuk bahasa dan kemampuan menyerap struktur dan kosakata baru.
Ketika dewasa, situasi ini berubah. Penjelasan umum tentang mengapa sejumlah orang tampak mudah sekali belajar bahasa baru dibanding orang lain yaitu bahwa seseorang yang mempunyai ketertarikan terhadap bahasa dan secara intelektual mampu mengolah pengalaman dan mengoptimalkan teknik belajarnya akan lebih efisien mempelajari bahasa baru. Dengan demikian mereka lebih mudah dalam mempelajari bahasa baru tersebut. Faktor lain menyatakan bahwa bahasa cenderung bertindihan tata bahasa dan kosakata, sehingga lebih mudah mempelajari bahasa baru, menghubung-hubungkan pengetahuan baru dengan pengetahuan yang sudah dimiliki si pelajar. Misalnya, seorang penutur bahasa Inggris "tahu" secara pasif sekian ribu kata berbahasa Prancis berkat penyerapan kata dalam jumlah besar oleh bahasa Inggris dari bahasa Prancis (penindihan ini jauh lebih sedikit antara bahasa Inggris dan Jerman atau bahasa Jermanik lainnya). Penutur hanya perlu "mengaktifkan" hubungan tersebut, lebih mudah daripada mempelajari dari awal kosakata dan struktur tata bahasanya yang terkesan baru.
Ada sejumlah teori eksotis tentang sebab beberapa orang bisa belajar bahasa dengan mudah, sementara lainnya kesulitan mempelajari satu bahasa asing saja. Satu teori menyatakan bahwa naiknya level testosteron di uterus bisa meningkatkan asimetri otak.[2] Teori lainnya menyatakan bahwa menjadi seorang poliglot tidak harus memiliki faktor-faktor tersebut dan ini semua hanya masalah kerja keras dan motivasi yang tepat yang bisa dilakukan semua orang dewasa meski tidak berbakat secara alamiah.[3] Ilmuwan saraf Katrin Amunts mempelajari otak Emil Krebs dan menetapkan bahwa wilayah di otak Krebs yang mengatur kemampuan berbahasa, wilayah Broca, memiliki susunan yang berbeda ketimbang otak orang-orang monolingual.
Kriteria objektif
[sunting | sunting sumber]Dengan ditemukannya komputer, para ahli bahasa dapat memahami lebih lanjut tentang arti "mengetahui sebuah bahasa". Diperkirakan bahwa 2000 kata berfrekuensi tinggi (dalam semua artiannya) mencakup sekitar 75-80% teks umum dalam bahasa Inggris dan Eropa lainnya. Kosakata yang terbatas seperti itu memungkinkan seseorang menciptakan konsep yang jauh lebih rumit sesuai sirkumlokusi (misalnya 30.000-50.000 kata yang terdapat dalam kamus bahasa Inggris pelajar modern didefinisikan dengan 2000-3000 kata saja). Di sisi lain, seorang penutur asli dengan pendidikan tinggi mampu menguasai 25.000-30.000 kata pasif. Kosakata pasif yang dikuasai para penutur asli berpendidikan bertambah jumlahnya seiring usia hingga 50.000 kata atau lebih pada usia 50-60 tahun.
Sulit menentukan secara objektif klaim poliglotisme yang ada, karena "kefasihan" dapat dicapai dengan penguasaan secara aktif dan pemakaian asertif dengan kosakata umum yang sangat terbatas atau bahkan kosakata khusus terbatas. Seorang penutur asli yang memakai 1000 dari 40.000-50.000 kata dalam tulisannya atau seorang "poliglot" yang terbatas hingga 2000-3000 kata adalah "penutur mahir" yang sama-sama berbeda.
Poliglot Ternama Yang Masih Hidup
[sunting | sunting sumber]- Swami Rambhadracharya, pemimpin spiritual hindu, sarjana sanskerta, penyair, penulis, komentator teks, filsuf asal India yang mampu menuturkan 22 bahasa termasuk Sansekerta, Hindi, Inggris, Prancis, Bhojpuri, Maithili, Oriya, Gujarat, Punjab, Marathi, Magadhi, Braj dam Awadhi. Rambhadracharya tunanetra sejak usia dua bulan, tetapi tidak pernah memakai huruf Braille atau bantuan apapun untuk belajar atau mengubah musik.[4]
- Alexander Arguelles, sarjana multibahasa asal Amerika Serikat. Ia bisa membaca dan menuturkan dengan fasih 36 bahasa.[5]
- Peter Turkson, kardinal Gereja Katolik asal Ghana dan calon pengganti Paus Benediktus XVI. Turkson mampu menuturkan bahasa Inggris, Fante, Prancis, Italia, Jerman, dan Ibrani. Ia juga paham bahasa Latin dan Yunani.[6]
- Claudio Castagnoli, seorang petinju profesional asal Swiss. Ia fasih dalam 5 bahasa, diantaranya Inggris, Jerman, Italia, Prancis dan Romansh. Ia juga terbiasa mengadakan wawancara dalam bahasa yang berbeda.[7]
- Daniel Tammet, penulis, esais, dan savant penderita autis asal Britania Raya. Ia mempelajari 10 bahasa, termasuk Rumania, Gaelik Skotlandia, Wales dan Islandia dalam seminggu untuk pembuatan sebuah dokumenter televisi.[8]
- Dikembe Mutombo, mantan pemain NBA asal Demokratik Kongo. Ia mampu menuturkan bahasa Inggris, Prancis, Portugis, Spanyol, Tshiluba, Swahili, Lingala dan 2 bahasa Afrika lain.[9]
- D. J. Mbenga, pemain NBA asal Belgia. Ia mampu menuturkan bahasa Inggris, Prancis, Lingala, Portugis dan Tshiluba.[10]
- Graça Machel, istri mantan Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela dan mantan istri Presiden Mozambik Samora Machel. Ia fasih menuturkan 7 bahasa diantaranya Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Portugis, Spanyol dan Tsonga. Graça Machel adalah satu-satunya wanita di dunia yang menjadi ibu negara di dua negara berbeda, Mozambik dan Afrika Selatan.
- Ioannis Ikonomou, penerjemah di Komisi Eropa asal Jepang. Ia mampu menuturkan 32 bahasa dengan fasih.[11]
- Jimmy Louis, aktor dan model asal Haiti yang dikenal sebagai pemeran The Haitian dalam seri televisi Heroes di NBC. Ia lancar berbicara dalam 5 bahasa, Kreol Haiti, Inggris, Prancis, Italia dan Spanyol.