Pergi ke kandungan

Kehomoseksualan

Daripada Wikipedia, ensiklopedia bebas.
(Dilencongkan daripada Homoseksual)

Kehomoseksualan ([kĕ.ho.mo.sék.sua.lan]; bahasa Inggeris: homosexuality - Mal.: homoseksualiti, Ind.: homoseksualitas) adalah rasa ketertarikan romantis dan/atau seksual ("rahi") atau perilaku seciri antara individu yang sama jantina atau gender. Dalam konteks kecenderungan seks, hal ini mengacu kepada "pola berkelanjutan atau disposisi untuk pengalaman seksual, kasih sayang, atau ketertarikan romantis" terutama atau secara eksklusif pada orang dari jenis kelamin sama, malah juga pada "pandangan individu tentang pengenalan diri dan sosial berdasarkan pada ketertarikan, perilaku ekspresi, dan keanggotaan dalam masyarakat lain yang [sekeadaan]."[1][2]

Homoseksual adalah salah satu dari tiga kategori utama orientasi seksual, bersama dengan kedwiseksan dan keheteroseksualan, dalam kontinum heteroseksual-homoseksual. Ilmuwan tidak tahu secara pasti apa yang menentukan orientasi seksual seseorang, tetapi mereka menduga bahawa orientasi seksual dipicu oleh kombinasi faktor genetik, hormon, dan lingkungan,[3][4][5] dan bukanlah suatu pilihan.[3][4][6] Mereka merujuk kepada teori-teori yang berdasarkan pada biologi,[3] yang menyebut faktor genetik, lingkungan awal di uterus, atau kedua-duanya.[7][8] Tidak ada bukti yang kukuh menunjukkan bahawa pengalaman pada masa kecil berperanan mengubah orientasi seksual.[7][9] Selain itu, upaya untuk mengubah orientasi seksual juga tidak didukung oleh bukti-bukti ilmiah.[10]

Persetujuan para ilmiah peri laku dan sosial dan juga dalam bidang kesihatan dan psikologi menyatakan bahawa homoseksual adalah aspek normal dalam orientasi seksual manusia.[10] Homoseksual bukanlah penyakit mental dan bukan penyebab kesan psikologi negatif; prasangka terhadap kaum dwiseks dan homoseksuallah yang menyebabkan kesan seperti itu.[10] Meskipun begitu banyak aliran agama dan organisasi "mantan-gay" yang memandang bahawa kegiatan homoseksual adalah dosa atau kelainan. Bertentangan dengan pemahaman umum secara ilmiah, berbagai aliran dan organisasi ini kerap menggambarkan bahawa homoseksual merupakan "pilihan".[11]

Istilah umum dalam homoseksual yang sering digunakan adalah lesbian untuk perempuan pencinta sesama jenis dan gay untuk lelaki pencinta sesama jenis, meskipun gay dapat merujuk pada lelaki atau perempuan. Bagi para peneliti, jumlah individu yang dikenali sebagai gay atau lesbian — dan perbandingan individu yang memiliki pengalaman seksual sesama jenis — susah diperkirakan atas berbagai alasan.[12] Dalam kemodenan Barat, menurut berbagai penelitian, 2% sehingga 13% dari penduduk manusia adalah homoseksual atau pernah melakukan hubungan sesama jenis dalam hidupnya.[13][14][15][16][17][18][19][20][21][22][23] Sebuah kajian pada tahun 2006 menunjukkan bahawa 20% dari populasi secara awanama melaporkan memiliki perasaan homoseksual, meskipun relatif sedikit peserta dalam pemerhatian ini menyatakan diri mereka sebagai homoseksual.[24] Perilaku homoseksual juga banyak dilihat pada haiwan.[25][26][27][28][29]

Banyak individu gay dan lesbian memiliki komitmen hubungan sesama jenis, meskipun hanya baru-baru ini terdapat maknyah dan status undang-undang/politik yang mempermudah pengamblan maknyah dan keberadaan mereka.[30][31][32][33][34][35][36][37][38] Hubungan ini setara dengan hubungan heteroseksual dalam hal-hal penting secara psikologi.[39] Hubungan dan tindakan homoseksual telah dikagumi, serta dikutuk, sepanjang sejarah, tergantung pada bentuknya dan budaya tempat mereka didapati.[40] Sejak akhir abad ke-19, telah ada gerakan menuju pengakuan keberadaan dan hak-hak sah bagi orang-orang homoseksual, yang mencakupi hak untuk pernikahan dan kesatuan sivil, hak mengambil anak angkat dan pengasuhan, hak kerja, hak untuk menyertai askar, dan hak untuk mendapatkan jaminan sosial kesihatan.

Etimologi

[sunting | sunting sumber]

Kata homoseksual adalah hasil penggabungan awalan bahasa Yunani Kuno ὁμός homos, 'sama' (tidak terkait dengan kata bahasa Latin homo, 'manusia', seperti dalam Homo sapiens), sehingga dapat juga bererti tindakan seksual dan kasih sayang antara individu sama jantina , termasuk lesbianisme.[41] Gay umumnya merujuk kepada homoseksual lelaki, tetapi dapat digunakan secara luas untuk merujuk kepada semua orang LGBT. Dalam konteks seksualiti, lesbian, hanya merujuk pada homoseksual perempuan. Kata "lesbian" berasal dari nama pulau Yunani Lesbos, di mana penyair Sapfo banyak kali menulis tentang hubungan perasaannya dengan wanita muda.[42][43]

Banyak panduan penulisan moden di Amerika Syarikat menyarankan untuk tidak menggunakan kata homoseksual sebagai kata nama, tetapi menggunakan kata lelaki gay atau lesbian.[44] Demikian pula, beberapa mencadangkan untuk sepenuhnya menghindari penggunaan kata homoseksual kerana memiliki sejarah yang buruk dan kerana kata tersebut hanya merujuk pada perilaku seksual seseorang (berlawanan dengan perasaan romantis) dan dengan demikian memiliki konotasi negatif.[44] Gay dan lesbian adalah alternatif yang paling umum. Huruf pertama sering digabungkan untuk menciptakan 'LGBT' (terkadang ditulis sebagai GLBT), di mana B dan T mengacu pada orang dwiseks (biseksual) dan transgender.

Kemunculan istilah homoseksual pertama kali ditemukan pada tahun 1869 dalam sebuah risalah Jerman tulisan novelis kelahiran Austria Karl-Maria Kertbeny yang diterbitkan secara awanama,[45] berisi perdebatan melawan undang-undang antisodomi Prusia.[46][47] Pada tahun 1879, Gustav Jager menggunakan istilah Kertbeny dalam bukunya, Die Entdeckung der Seele (1880).[47] Pada tahun 1886, Richard von Krafft-Ebing menggunakan istilah homoseksual dan heteroseksual dalam bukunya Psychopathia Sexualis; ia mungkin meminjamnya dari buku Jager. Buku Krafft-Ebing begitu terkenal dalam kalangan baik orang awam serta kedoktoran sehingga istilah "heteroseksual" dan "homoseksual" menjadi istilah yang paling luas diterima untuk orientasi seksual.[47][48] Dengan demikian, penggunaan istilah tersebut berakar dari tradisi taksonomi keperibadian abad ke-19 yang lebih luas.

Meskipun penulis awal juga menggunakan kata adjektif homoseksual untuk merujuk pada konteks sesama jenis (seperti sekolah khusus perempuan), sekarang istilah ini digunakan secara eksklusif dalam rujukan untuk daya tarik seksual, aktiviti, dan orientasi. Istilah homososial sekarang digunakan untuk menggambarkan konteks sesama jenis yang tidak secara khusus bersifat seksual. Ada juga kata yang merujuk kepada cinta sesama jenis, homofilia.

Beberapa sinonim untuk ketertarikan atau aktiviti sesama jenis meliputi lelaki yang berhubungan seks dengan lelaki atau LSL (digunakan dalam kalangan para perubatan ketika secara khusus membahas aktiviti seksual) dan homoerotis (merujuk kepada karya seni).[49] Istilah pejoratif dalam bahasa Inggris meliputi queer, faggot, fairy (pari-pari), poof dan homo.[50][51][52][53] Dimulai pada 1990-an, beberapa kata pejoratif telah dijadikan kata-kata positif oleh lelaki gay dan lesbian, seperti dalam penggunaan istilah kajian queer, teori queer, dan bahkan program televisyen terkenal Amerika Queer Eye for the Straight Guy.[54] Kata homo muncul dalam banyak bahasa lainnya tanpa konotasi penghinaan seperti dalam bahasa Inggris.[55] Namun, seperti penghinaan etnik dan penghinaan kaum, penyalahgunaan istilah-istilah ini masih boleh menjadi sangat menyinggungkan, dan penggunaan yang dapat diterima tergantung pada konteks dan pembicara.[56] Sebaliknya, gay, kata yang awalnya diambil oleh lelaki homoseksual dan wanita sebagai istilah positif afirmatif (seperti dalam pembebasan gay dan hak-hak gay),[57] telah digunakan secara pejoratif dalam kalangan pemuda.[58]

Seksualiti dan identiti gender

[sunting | sunting sumber]

Skala Kinsey

[sunting | sunting sumber]

Skala Kinsey mencuba untuk menggambarkan sejarah seksual seseorang atau episod aktiviti seksual mereka pada waktu tertentu. Menggunakan skala dari 0, bererti secara eksklusif heteroseksual, sampai 6, yang bererti secara eksklusif homoseksual.[59][60]

Skala Deskripsi
0 Sepenuhnya heteroseksual
1 Heteroseksual, sesekali homoseksual
2 Heteroseksual, homoseksual lebih dari sesekali
3 Biseksual.
4 Homoseksual, heteroseksual lebih dari sesekali
5 Homoseksual, sesekali heteroseksual
6 Sepenuhnya homoseksual
X Aseksual, Non-Seksual

Orientasi seksual, identiti, perilaku

[sunting | sunting sumber]

American Psychological Association, American Psychiatric Association, dan National Association of Social Workers menyatakan orientasi seksual "bukan hanya ciri-ciri peribadi yang dapat didefinisikan secara tersendiri. Malahan, orientasi seksual seseorang menentukan dengan siapa orang tersebut mungkin menemukan hubungan yang memuaskan":[39]

Orientasi seksual secara umumnya dibahas sebagai ciri-ciri individu, seperti jenis kelamin biologi, identiti gender, atau usia. Perspektif ini tidak lengkap kerana orientasi seksual selalu didefinisikan dalam istilah relasional dan harus melibatkan hubungan dengan orang lain. Tindakan seksual dan tarikan romantis dikategorikan sebagai homoseksual atau heteroseksual sesuai dengan jenis kelamin biologi individu yang terlibat di dalamnya, yang bersifat relatif satu sama lain. Memang individu-individu mengungkapkan heteroseksual, homoseksual, atau dwiseks mereka dengan tindakan atau keinginan mereka terhadap orang lain. Hal ini mencakup tindakan-tindakan sederhana seperti berpegangan tangan atau berciuman. Jadi, orientasi seksual secara integral terkait dengan hubungan personal seorang individu yang dibentuk dengan individu lain untuk memenuhi keperluan cinta, ikatan dan keintiman. Selain perilaku seksual, ikatan ini mencakup kasih sayang fizikal tanpa seksual antara pasangan, tujuan dan nilai-nilai bersama, sikap saling mendukung dan komitmen berlanjutan.[39]

Perkembangan identiti seksual: "proses melela"

[sunting | sunting sumber]

Banyak orang yang merasakan ketertarikan kepada anggota jenis kelamin sama memiliki fasa "melela" (coming out) dalam kehidupan mereka. Umumnya, melela digambarkan dalam tiga fasa. Fase pertama adalah fasa "mengenali diri", dimana muncul kesedaran bahawa ia terbuka untuk hubungan sesama jenis. Fasa ini sering digambarkan sebagai melela yang bersifat internal. Tahap kedua melibatkan keputusan untuk terbuka kepada orang lain, misalnya keluarga, teman, dan/atau kawan sejawat. Tahap ketiga mencakupi hidup secara terbuka sebagai orang LGBT.[61] Di Amerika Syarikat saat ini, orang sering "come out" di usia sekolah menengah atas atau kuliah. Pada usia ini, mereka mungkin tidak percaya atau meminta bantuan dari orang lain, terutama ketika orientasi mereka tidak diterima dalam masyarakat. Terkadang keluarga mereka sendiri bahkan tidak diberitahu.

Menurut Rosario, Schrimshaw, Hunter, Braun (2006), "perkembangan identiti seksual lesbian, gay, atau biseksual (LGB) adalah suatu proses yang kompleks dan sering kali sulit. Tidak seperti anggota kelompok minoriti lainnya (misalnya, etnik minoriti dan ras), sebagian besar individu LGB tidak dibesarkan dalam komuniti serupa di mana mereka dapat belajar tentang identitinya dan mematangkan dan mendukung identiti itu. Sebaliknya, individu LGB sering dibesarkan dalam komuniti yang abai atau secara terbuka memusuhi homoseksual. "[62]

Pelelaan (bahasa Inggeris: outing) adalah upaya membongkar kecenderungan seksual seorang yang tertutup daripada pengetahuan orang ramai.[63] Ahli politik terkenal, selebriti, dalam kalangan askar, dan paderi telah "dibongkar" dengan motif mulai dari kebencian hingga ke alasan politik atau keyakinan moral. Banyak yang komen menentang keras praktik ini atas dasar privasi,[64] sementara beberapa mendukung pembongkaran homoseksual tokoh masyarakat yang menggunakan pengaruh mereka untuk menyakiti gay lainnya.[65]

Identiti gender

[sunting | sunting sumber]

Para penulis awal orientasi homoseksual biasanya memahami keterkaitan intrinsik pada jenis kelamin subjek. Sebagai contoh, mereka berpendapat bahawa individu yang berwatakkan perempuan yang tertarik pada individu berwatakkan perempuan lainnya akan memiliki sifat maskulin, dan sebaliknya.[66] Pemahaman ini diikut oleh sebagian besar ahli teori penting homoseksual dari pertengahan abad ke-19 hingga awal abad 20, seperti Karl Heinrich Ulrichs, Richard von Krafft-Ebing, Magnus Hirschfeld, Havelock Ellis, Carl Jung dan Sigmund Freud, serta individu-individu dalam kalangan homoseksual sendiri. Namun, pemahaman tentang homoseksual sebagai penukaran seksual pada saat itu telah menyebabkan pertikaian dan silang pendapat, dan setelah separuh kedua abad ke-20, identiti gender semakin dilihat sebagai fenomena yang berbeza dari orientasi seksual.

Individu-individu transgender dan cisgender dapat tertarik kepada lelaki, perempuan atau keduanya, meskipun prevalens orientasi seksual yang berlainan sangat berbeza dalam dua golongan ini. Individu homoseksual, heteroseksual atau dwiseks dapat bersifat maskulin, feminin, atau androgini, dan di samping itu, banyak anggota dan pendukung komuniti lesbian dan gay sekarang yang melihat "heteroseksual sesuai gender" dan "homoseksual tidak sesuai gender" sebagai stereotaip negatif. Meskipun demikian, sebuah penelitian oleh J. Michael Bailey dan K.J. Zucker telah menemukan bahawa majoriti lelaki gay dan lesbian lahir tidak sesuai gender selama masa kecil mereka.[67] Richard C. Friedman, dalam bukunya Male Homosexualiy yang terbit pada tahun 1990,[68] menulis dari sudut pandang psikoanalisis, berpendapat bahawa hasrat seksual dimulai lebih lambat dari yang sepatutnya dalam tulisan-tulisan Sigmund Freud. Ia menunjukkan hasrat seksual muncul bukan pada masa bayi, tetapi antara usia 5 dan 10 tahun dan tidak terfokus kepada orang tua tetapi pada orang di sekitarnya. Oleh kerana itu, menurutnya lelaki homoseksual tidak abnormal, kerana tidak pernah tertarik secara seksual pada ibu mereka.[69]

Pembinaan sosial

[sunting | sunting sumber]

Kerana orientasi homoseksual bersifat kompleks dan multi-dimensi, beberapa akademisi dan peneliti, terutama dalam studi Queer, berpendapat bahwa homoseksual adalah konstruksi sejarah dan sosial. Pada tahun 1976 sejarawan Michel Foucault berpendapat bahwa homoseksualitas sebagai identitas tidak ada pada abad ke-18. Orang-orang pada masa itu berbicara tentang "sodomi" yang mengacu kepada tindakan seksual. Sodomi saat itu merupakan kejahatan yang sering diabaikan tetapi terkadang dijatuhi hukuman berat.

Istilah homoseksual sering digunakan dalam budaya Eropa dan Amerika untuk mencakup keseluruhan identitas sosial seseorang, yang meliputi diri dan kepribadian. Dalam budaya Barat beberapa orang membicarakan identitas dan komunitas gay, lesbian, dan biseksual. Dalam budaya lain, label homoseksual dan heteroseksual tidak menentukan identitas sosial atau menunjukkan afiliasi komunitas berdasarkan orientasi seksual.[70] Beberapa ilmuwan, seperti David Green, menyatakan bahwa homoseksualitas adalah konstruksi sosial modern Barat, dan dengan demikian tidak dapat digunakan dalam konteks seksualitas antar pria non-Barat, atau pada masa pra-modern Barat.[71]

Percintaan dan hubungan sesama jenis

[sunting | sunting sumber]

Individu-individu dengan orientasi homoseksual dapat mengekspresikan seksualitasnya dalam berbagai cara, dan dapat atau dapat tidak muncul dalam perilaku mereka.[72] Beberapa memiliki hubungan seksual dengan individu-individu dengan identitas gender sama, lain gender, biseksual atau dapat juga berselibat.[72] Penelitian menunjukkan banyak pasangan lesbian dan gay yang menginginkan, dan berhasil dalam memiliki komitmen dan hubungan yang bertahan lama. Sebagai contoh, data survei menunjukkan bahwa antara 40% dan 60% pria gay dan antara 45% dan 80% dari lesbian saat ini terlibat dalam hubungan percintaan.[73] Data survei juga menunjukkan bahwa antara 18% dan 28% dari pasangan gay dan antara 8% dan 21% dari pasangan lesbian di AS telah hidup bersama selama sepuluh tahun atau lebih.[73] Sejumlah penelitian telah mengungkapkan bahwa pasangan homoseksual dan heteroseksual setara satu sama lain dalam ukuran kepuasan dan komitmen dalam hubungan percintaan,[74][75] bahwa usia dan gender lebih dapat diandalkan sebagai alat ukur kepuasan dan komitmen hubungan percintaan,[75] dan bahwa individu heteroseksual atau homoseksual memiliki harapan dan impian hubungan percintaan yang sebanding.[76]

Demografi

[sunting | sunting sumber]

Data tepercaya tentang ukuran populasi gay dan lesbian sangat penting dalam memberikan informasi kebijakan publik.[77] Misalnya, demografi membantu menghitung biaya dan keuntungan dari manfaat kemitraan domestik, dampak dari legalisasi adopsi anak oleh pasangan gay, dan dampak dari kebijakan militer Amerika Serikat Don't Ask Don't Tell.[77] Selanjutnya, pengetahuan tentang ukuran populasi "gay dan lesbian menjanjikan bantuan bagi para ilmuwan sosial memahami beragam pertanyaan penting -pertanyaan tentang kriteria umum pasar tenaga kerja, akumulasi modal, spesialisasi tugas dan peran dalam rumah tangga, diskriminasi, dan pemilihan lokasi geografis."[77]

Namun, terdapat kesulitan dalam mengukur prevalensi homoseksualitas.[12] Penelitian harus mengukur beberapa karakteristik yang dapat atau tidak dapat menentukan orientasi seksual seseorang. Kalangan yang memiliki hasrat sesama jenis mungkin lebih besar dari kalangan orang yang bertindak memenuhi keinginannya itu, yang mungkin juga lebih besar dari kalangan orang yang menyatakan diri sebagai gay/lesbian/biseksual.[77]

Pada tahun 1948 dan 1953, Alfred Kinsey melaporkan bahwa hampir 46% dari subjek laki-laki "bereaksi" secara seksual kepada orang-orang dari kedua jenis kelamin dalam perjalanan kehidupan dewasa mereka, dan 37% memiliki, setidaknya, satu pengalaman homoseksual.[78][79] Metodologi Kinsey ini menuai kritikan.[80][81] Sebuah penelitian kemudian mencuba menghilangkan bias terhadap sampel, tetapi masih memperoleh kesimpulan yang sama.[82]

Perkiraan populasi homoseksualitas eksklusif berkisar antara 1-20 persen dari populasi, biasanya ditemukan lebih banyak populasi gay daripada lesbian.[14][15][18][19][21][22][23][24][83]

Perkiraan frekuensi aktivitas homoseksual juga bervariasi dari satu negara ke negara lain. Sebuah penelitian tahun 1992 melaporkan bahwa 6,1% laki-laki di Britania Raya telah memiliki pengalaman homoseksual, sementara di Prancis jumlah itu hanya 4,1%.[84] Menurut survei tahun 2003, 12% dari warga Norwegia telah melakukan hubungan seks homoseksual.[22] Di Selandia Baru, sebuah penelitian tahun 2006 menunjukkan bahwa 20% dari populasi secara anonim melaporkan memiliki perasaan homoseksual, beberapa dari mereka mengaku sebagai homoseksual. Persentase individu yang teridentifikasi homoseksual sejumlah 2-3%.[24] Hasil sebuah polling tahun 2008, menunjukkan dimana hanya 6% penduduk Britania Raya menetapkan orientasi seksualnya sebagai homoseksual atau biseksual, lebih dari dua kali angka itu (13%) yang memiliki beberapa bentuk kontak seksual dengan individu berjenis kelamin sama.[23]

Pada pemilu AS 2008, berdasarkan hasil pemungutan suara, 4% dari pemilih menyatakan diri sebagai gay, lesbian, atau biseksual, sama seperti pada tahun 2004.[85] Menurut Lembaga Sensus Amerika Serikat pada tahun 2000 ada sekitar 601.209 pasangan rumah tangga tak menikah.[86]

Di Britania Raya, hasil survei Kantor Statistik Nasional melansir angka 1,5% gay atau biseksual, dan menunjukkan kesamaan dengan hasil survei lain yang memberi kisaran antara 0,3% dan 3%.[79]

Psikologi

[sunting | sunting sumber]

Psikologi adalah salah satu disiplin ilmu pertama yang mempelajari orientasi homoseksual sebagai fenomena diskrit (terpisah). Upaya pertama mengklasifikasikan homoseksualitas sebagai penyakit dibuat oleh gerakan seksolog amatir Eropa di akhir abad ke-19. Pada tahun 1886, seksolog terkemuka, Richard von Krafft-Ebing, menyejajarkan homoseksualitas bersama dengan 200 studi kasus praktik seksual menyimpang lainnya dalam karya, Psychopathia Sexualis. Krafft-Ebing mengedepankan bahwa homoseksualitas disebabkan oleh "kesalahan bawaan lahir [selama kelahiran]" atau "inversi perolehan". Dalam dua dekade terakhir dari abad ke-19, pandangan lain mulai mendominasi kalangan medis dan psikiatris , menilai perilaku tersebut menunjukkan jenis individu dengan orientasi seksual bawaan dan relatif stabil. Pada akhir abad 19 dan awal abad 20, model patologis homoseksualitas banyak digunakan.

American Psychological Association, American Psychiatric Association, dan National Association of Social Workers berpendapat:

Pada tahun 1952, ketika Asosiasi Psikiatri Amerika pertama kali menerbitkan Diagnostic and Statistic Manual of Mental Disorders, homoseksualitas dikategorikan sebagai gangguan kejiwaan. Namun, pengklasifikasian tersebut segera menjadi sasaran pemeriksaan kritis dalam penelitian yang didanai oleh Institut Kesehatan Mental Nasional. Studi dan penelitian berikutnya secara konsisten gagal menghasilkan dasar empiris atau ilmiah yang menunjukkan homoseksualitas sebagai gangguan atau kelainan. Dari berbagi kumpulan hasil penelitian homoseksualitas, para ahli bidang kedokteran, kesehatan mental, ilmu-ilmu sosial dan ilmu perilaku mencapai kesimpulan bahwa pengklasifikasian homoseksualitas sebagai gangguan mental tidak akurat dan bahwa klasifikasi DSM mencerminkan asumsi yang belum teruji, yang didasarkan pada norma-norma sosial yang pernah berlaku dan pandangan klinis dari sampel yang tidak representatif yang terdiri dari pasien yang mencari terapi penyembuhan dan individu-individu yang masuk dalam sistem peradilan pidana karena perilaku homoseksualitasnya.

Sebagai pengakuan bukti ilmiah,[87] Asosiasi Psikiatri Amerika menghapuskan homoseksualitas dari DSM pada tahun 1973, menyatakan bahwa "homoseksualitas sendiri menunjukkan tidak adanya gangguan dalam penilaian, stabilitas, keandalan, atau kemampuan sosial umum atau vokasional." Setelah meninjau data ilmiah secara saksama, Asosiasi Psikologi Amerika melakukan tindakan yang sama pada tahun 1975, dan mendesak semua pakar kejiwaan "untuk memimpin menghilangkan stigma penyakit mental yang telah lama dikaitkan dengan orientasi homoseksual." Asosiasi Nasional Pekerja Sosial pun menerapkan kebijakan serupa.

Kesimpulannya, para pakar kejiwaan dan peneliti telah lama mengakui bahwa menjadi homoseksual tidak menimbulkan hambatan untuk menjalani hidup yang bahagia, sehat, dan produktif, dan bahwa sebagian besar kalangan gay dan lesbian bekerja dengan baik di berbagai lembaga sosial dan hubungan interpersonal."[39]

[7] Penelitian dan literatur klinis menunjukkan bahwa atraksi seksual dan cinta, perasaan, dan perilaku dalam konteks hubungan sesama jenis bersifat normal dan positif. Konsensus ilmu-ilmu sosial dan ilmu perilaku dan profesi kesehatan dan kejiwaan menyatakan bahwa homoseksualitas merupakan variasi normal dan positif dari orientasi seksual manusia.[88] Kini, terdapat bukti penelitian yang menunjukkan bahwa menjadi gay, lesbian atau biseksual sesuai dengan kesehatan mental normal dan penyesuaian sosial.[7] ICD-9 yang dikeluarkan Organisasi Kesehatan Dunia (1977) mencantumkan homoseksualitas sebagai penyakit kejiwaan; kemudian dihilangkan dalam ICD-10 yang disahkan oleh Sidang Majelis Kesehatan Dunia ke-43 pada tanggal 17 Mei 1990.[89][90] Seperti DSM-II, ICD-10 menambahkan orientasi seksual ego-distonik, mengacu kepada individu yang ingin mengubah identitas gender atau orientasi seksual mereka karena gangguan perilaku atau psikologis( F 66,1 ). Masyarakat Psikiatri Tionghoa menghapuskan homoseksualitas dari Klasifikasi Gangguan Mental Tionghoa pada tahun 2001, lima tahun setelah dilakukan studi oleh asosiasi tersebut.[91] Menurut Royal College of Psychiatrists "sejarah buram ini menunjukkan bagaimana marjinalisasi terhadap sekelompok orang yang memiliki ciri-ciri kepribadian tertentu (dalam hal ini kasus homoseksualitas) dapat menyebabkan praktik medis berbahaya dan dasar diskriminasi di masyarakat.[7] Namun, pengalaman diskriminasi dalam masyarakat dan kemungkinan penolakan oleh sebaya, kerabat, dan yang lainnya, seperti kolega, mengakibatkan sejumlah individu LGB mengalami kendala kesahatan mental dan masalah penyalahgunaan obat yang lebih kuat ketimbang rata-rata. Meskipun ada klaim dari kelompok-kelompok politik konservatif di Amerika Serikat bahwa tingginya kendala kesehatan mental adalah bukti bahwa homoseksualitas itu sendiri merupakan gangguan mental, tidak ada bukti apapun yang dapat mendukung klaim seperti itu."[92]

Kebanyakan individu lesbian, gay, dan biseksual menjalani psikoterapi dengan alasan sama seperti individu heteroseksual (stres, hubungan kesulitan, kesulitan menyesuaikan diri dengan situasi sosial atau tempat kerja, dll); orientasi seksual mereka mungkin penting, sepele, atau tidak penting bagi perlakuan dan pokok permasalahan mereka. Apapun masalahnya, ada risiko tinggi prasangka anti-gay terhadap klien psikoterapi yang lesbian, gay, dan biseksual.[93] Penelitian psikologis untuk hal ini telah membantu melawan sikap dan tindakan berprasangka ("homofobia") yang merugikan, dan secara umum membantu gerakan perjuangan hak-hak LGBT.[94]

Penerapan psikoterapi yang disetujui harus didasarkan pada fakta-fakta ilmiah berikut:[88]

  • Ketertarikan seksual, perilaku, dan orientasi sesama jenis merupakan varian seksualitas manusia yang bersifat normal dan positif, tidak menunjukkan gangguan mental atau perkembangan.
  • Homoseksualitas dan biseksualitas dianggap buruk, dan stigma ini dapat memiliki berbagai konsekuensi negatif (misalnya, stres minoritas) sepanjang rentang kehidupan (D'Augelli & Patterson, 1995; DiPlacido, 1998; Herek & garnet, 2007; Meyer, 1995, 2003 ).
  • Perilaku dan ketertarikan seksual sesama jenis dapat terjadi dalam konteks ragam orientasi seksual dan identitas orientasi seksual (Diamond, 2006; Hoburg et al, 2004;. Rust, 1996; Savin-Williams, 2005).
  • Individu-individu gay, lesbian, dan biseksual dapat hidup bahagia dan memiliki hubungan dan keluarga yang stabil dan berkomitmen, setara dengan hubungan heteroseksual dalam pokok-pokok penting (APA, 2005c; Kurdek, 2001, 2003, 2004; Peplau & Fingerhut, 2007) .
  • Tidak ada studi empiris atau penelitian ulasan sepadan (peer-review research) yang mendukung teori yang mengaitkan orientasi seksual sesama jenis dengan disfungsi keluarga atau trauma (Bell dkk, 1981;. Bene, 1965; Freund & Blanchard, 1983; Freund & Pinkava, 1961; Hooker, 1969; McCord et al, 1962;. DK Peters & Cantrell, 1991; Siegelman, 1974, 1981;. Townes et al, 1976).

Walaupun ilmuwan mendukung model biologis untuk menjelaskan asal mula orientasi seksual,[3] mereka merasa bahwa orientasi seksual tidak ditentukan oleh satu faktor saja. Faktor-faktor yang mempengaruhi adalah faktor biologis dan lingkungan; faktor biologis dapat berupa genetika dan hormon yang mempengaruhi perkembangan otak fetus, sementara faktor lingkungan dapat bersifat sosiologis, psikologis, atau lingkungan awal di dalam uterus.[3][4][72] Ilmuwan pada umumnya sepakat bahwa orientasi seksual bukanlah suatu pilihan.[4][95]

American Psychological Association, American Psychiatric Association, dan National Association of Social Workers pada tahun 2006 menyatakan:

Saat ini, tidak ada kesepakatan ilmiah tentang faktor-faktor yang menyebabkan individu menjadi heteroseksual, homoseksual, atau biseksual -termasuk kemungkinan dampak biologis, psikologis, atau sosial orientasi seksual orang tua. Namun, bukti yang tersedia menunjukkan bahwa sebagian besar lesbian dan gay dewasa dibesarkan oleh orangtua heteroseksual dan sebagian besar anak-anak yang dibesarkan oleh orangtua lesbian dan gay tumbuh menjadi heteroseksual.[39]

Pada tahun 2007, Royal College of Psychiatrists menyatakan:

Meskipun spekulasi psikoanalitik dan psikologis telah berlangsung hampir satu abad, namun tidak ada bukti substantif yang mampu mendukung pendapat bahwa pola asuh atau pengalaman anak periode awal berperan dalam pembentukan dasar orientasi heteroseksual atau homoseksual seseorang. Orientasi seksual bersifat alamiah di alam, dan ditentukan oleh serangkaian interaksi kompleks faktor genetik dan masa kandungan awal. Orientasi seksual, karenanya, bukan merupakan pilihan.[7]

American Academy of Pediatrics dalam Pediatrics pada tahun 2004 menyatakan:

Orientasi seksual mungkin tidak ditentukan oleh satu faktor, tetapi oleh gabungan pengaruh genetik, hormon, dan lingkungan. Dalam beberapa dekade terakhir, teori-teori biologi telah dikemukakan para ahli. Tetapi, walaupun masih ada kontroversi dan ketidakpastian akan asal usul ragam orientasi seksual manusia, tidak ada bukti ilmiah bahwa kelainan pola asuh, pelecehan seksual, atau sejarah hidup buruk lainnya memengaruhi orientasi seksual. Pengetahuan saat ini berpendapat bahwa orientasi seksual biasanya terbentuk selama usia dini."[7][96][97]

American Psychological Association menyatakan "mungkin ada banyak penyebab terbentuknya orientasi seksual seseorang dan sebab-sebab tersebut berbeda pada tiap individu", dan mengatakan orientasi seksual kebanyakan orang ditentukan pada usia dini.[72] Penelitian tentang bagaimana orientasi seksual pada pria dapat ditentukan oleh faktor genetik atau faktor prenatal lainnya, menjadi perdebatan sosial dan politik terkait dengan isu homoseksualitas, dan juga menimbulkan kekhawatiran tentang profil genetik dan pengujian pralahir.[98]

Profesor Michael King menyatakan: "Kesimpulan yang dicapai oleh para ilmuwan dalam menyelidiki asal usul dan stabilitas orientasi seksual adalah bahwa itu merupakan karakteristik manusia yang terbentuk sejak awal kehidupan, dan tidak dapat berubah. Bukti ilmiah asal usul homoseksualitas dianggap relevan sebagai perdebatan teologis dan sosial karena adanya anggapan bahwa orientasi seksual adalah sebuah pilihan."[99]

Para penulis dari penelitian pada tahun 2008 menyatakan "ada cukup bukti bahwa orientasi seksual manusia dipengaruhi secara genetik, sehingga tidak diketahui bagaimana homoseksualitas, yang cenderung menurunkan keberhasilan reproduksi, mampu bertahan dalam populasi pada frekuensi yang relatif tinggi". Mereka berhipotesis bahwa "walaupun gen yang membawa kecenderungan homoseksualitas mengurangi keberhasilan reproduksi homoseksual, gen tersebut dapat memberikan beberapa keuntungan pada heteroseksual yang membawa gen itu". Hasil studinya menunjukkan bahwa "gen yang membawa kecenderungan homoseksualitas dapat memberikan keuntungan perkawinan pada heteroseksual, yang dapat membantu menjelaskan evolusi dan terjaganya homoseksualitas dalam populasi".[100] Sebuah studi tahun 2009 juga memperlihatkan peningkatan kesuburan wanita yang signifikan berhubungan dengan keturunan homoseksual dari garis ibu (tetapi tidak pada mereka yang berada pada garis keturunan ayah).[101]

Dalam abstraksi studinya tahun 2010, Garcia-Falgueras dan Swaab menyatakan, "otak janin berkembang selama masa intrauterin ke arah laki-laki melalui kerja testosteron pada sel-sel saraf yang berkembang, atau ke arah perempuan melalui ketiadaan hormon ini. Dengan cara ini, identitas gender kita (keyakinan tergabung dalam gender pria atau wanita) dan orientasi seksual telah diprogram atau diatur dalam struktur otak ketika masih dalam kandungan. Tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa lingkungan sosial setelah kelahiran membawa pengaruh pada identitas gender atau orientasi seksual."[102]

Kisah lesbian dan kesadaran akan orientasi seksualnya

[sunting | sunting sumber]

Kaum lesbian seringkali memiliki pengalaman seksualitas berbeda dari pria gay, dan memiliki pemahaman etiologi berbeda, di mana studi-studi etiologi banyak berfokus terutama pada pria.

Dalam sebuah survei surat tahun 1970-an oleh Shere Hite di Amerika Serikat, kalangan lesbian menyatakan alasan mereka menjadi lesbian. Ini adalah satu-satunya penelitian utama seksualitas perempuan yang telah mempelajari bagaimana perempuan memahami menjadi homoseksual sejak Kinsey pada tahun 1953. Penelitian ini menghasilkan informasi tentang pemahaman umum perempuan dalam hubungan lesbian dan orientasi seksual mereka.

Kaum perempuan berbicara tentang social conditioning, yang membuat "hampir mustahil bagi saya untuk memiliki hubungan seksual yang benar-benar sehat dengan seorang pria".[103] Perempuan lain menyatakan bahwa karena kondisi mereka "perempuan jauh lebih peka terhadap kebutuhan orang lain", maka "kegiatan seksual lebih baik secara fisik dan emosional dengan perempuan", juga mengungkapkan dia lebih menyukai simetri kekuasaan dan estetika antar perempuan.[103] Beberapa perempuan mengungkapkan, "secara pribadi saya lebih suka perempuan, mereka lebih lembut dan penuh kasih sayang",[103] dan beberapa bicara tentang bagaimana mereka menemukan hubungan emosional dengan wanita lebih memuaskan dibandingkan dengan laki-laki, perempuan menjadikan mereka lebih kreatif dan serba bisa. Seorang wanita melaporkan lebih mudah baginya "untuk menyerahkan diri secara emosional terhadap wanita".[103] Seorang wanita yang telah menjadi lesbian selama dua tahun mengatakan ia menjumpai hubungan seksual dengan perempuan lebih menyenangkan baik pada tingkat psikologis maupun fisik daripada dengan laki-laki, hal ini "dikarenakan wanita-wanita yang pernah berhubungan seks dengan saya telah menjadi teman saya telah sebelumnya, yang tidak pernah terjadi dengan laki-laki. Dengan berteman akan terbangun rasa percaya yang saya pikir sangat penting untuk kepuasan keintiman fisik. Berkaitan dengan wanita lain secara fisik tampak seperti hal yang paling alami di dunia. Anda sudah mengetahui bagaimana memberikan ia kesenangan. Kelembutan tampaknya menjadi kunci, dan merupakan perbedaan utama hubungan dengan pria dan wanita."[103] Perempuan berbicara tentang perempuan menjadi pasangan seksual lebih baik dan itu merupakan hal pokok: "Saya menemukan perempuan adalah kekasih yang lebih unggul; mereka tahu apa yang wanita inginkan dan hampir semua punya kedekatan emosional yang tidak pernah dapat dicocokkan dengan seorang pria. Lebih lembut, lebih menimbang dan memahami perasaan, dll"[103] Pandangan muncul dikarenakan laki-laki dianggap sebagai individu yang kaku secara "seksual atau emosional atau lainnya", dan lesbianisme dianggap "sebagai alternatif untuk abstinensi" dan untuk laki-laki umumnya.[103] Pria dianggap layaknya seorang anak kecil, sementara hubungan dengan perempuan digambarkan lebih sebagai "persekutuan diri".[103] Hubungan seks serta hubungan dengan wanita dipandang sebagai cara untuk memperoleh kemerdekaan dari laki-laki; "hubungan seks dengan perempuan berarti merdeka dari laki-laki."[103] Kinerja seksual laki-laki juga adalah masalah lain, "dua puluh menit dengan pria, setidaknya sama dengan satu jam dengan perempuan, atau biasanya lebih",[103] juga perhatian terhadap kebutuhan seksual wanita itu sendiri yang "tampak memiliki tingkat energi lebih berkelanjutan setelah orgasme, dan lebih mungkin untuk mengetahui dan melakukan sesuatu jika saya tidak puas".