Showing posts with label Technology. Show all posts
Showing posts with label Technology. Show all posts

Wednesday, September 24, 2008

Mencari Materi Awal Alam Semesta

. Wednesday, September 24, 2008
4 komentar


Para pakar fisika hendak membuat simulasi tahapan sesaat setelah dentumen besar menggunakan pemercepat partikel-LHC terbesar di dunia di CERN Jenewa.
Para pakar fisika Eropa sejak 20 tahun terakhir ini membangun instalasi pemercepat partikel, Large Hadron Collider-LHC berupa cincin raksasa dengan diameter 27 kilometer di kedalaman 100 meter di seputar kota Jenewa Swiss. Instalasi seharga 4 milyar Euro di pusat penelitian nuklir Eropa-CERN itu, diharapkan mampu memecahkan misteri unsur terkecil penyusun alam semesta.
Di instalasi pemercepat partikel terbesar di dunia di Jenewa itu, Proton dari inti atom unsur Hidrogen dipercepat hingga kecepatan mendekati kecepatan cahaya, yakni sekitar 300.000 km per detik. Separuh proton dari inti atom Hidrogen dipercepat searah jarum jam, separuh lagi melawan arah jarum jam. Pada satu titik proton ini akan saling bertabrakan dengan kecepatan super tinggi.
Operasi pertama instalasi pemercepat partikel –LHC di Jenewa itu sukses dilakukan tanggal 10 September lalu. Sekitar 10.000 pakar fisika di seluruh dunia mengamati dengan tegang peristiwa penting dalam pembuktian komposisi materi awal ketika terbentuknya alam semesta. Beberapa abad lamanya, para pakar fisika meyakini, atom adalah bagian terkecil penyusun materi. Tapi ilmu fisika modern menyebutkan aksioma, inti atom sebetulnya masih terdiri dari sejumlah partikel yang lebih kecil lagi. Partikel inilah yang terbentuk di saat kelahiran alam semesta.
Direktur jenderal pusat penelitian CERN di Jenewa, Rolf-Dieter Heuer menjelaskan:
“Dengan mesin ini kami semakin mendekat ke mikrokosmos pada saat awal terbentuknya alam semesta. Kami mengharapkan, dengan itu dapat diperoleh pengetahuan baru menyangkut kondisi awal alam semesta.“
Dengan bantuan Large Hadron Collider hendak ditemukan apa yang disebut partikel Higgs. Apa yang disebut Higgs-Boson itu adalah partikel yang dapat menjelaskan mengapa materi memiliki massa. Diberi nama Higgs-Boson karena ilmuwan yang pertama kali melontarkan aksiomanya adalah professor Peter Higgs dari Universitas Edinburg sekitar 30 tahun lalu. Apa yang disebut medan Higgs adalah gaya yang tidak kasat mata yang terbentuk sesaat setelah Dentuman Besar, ketika alam semesta mulai mendingin dengan suhu di bawah nilai kritisnya. Aksiomanya, semua partikel yang melakukan interaksi dengan Higgs Boson akan memiliki massa. Semakin intensif interaksinya, semakin berat bobotnya. Dengan penelitian menggunakan LHC hendak dibuktikan eksistensi Higgs-Boson. Jika tidak terbukti, maka teori fisika mungkin harus ditulis ulang.
Monitoring ujicoba tumbukan proton di dalam LHC.Bildunterschrift: Großansicht des Bildes mit der Bildunterschrift: Monitoring ujicoba tumbukan proton di dalam LHC.
Selain itu pemercepat partikel juga diharapkan mampu menguak misteri di balik apa yang disebut materi gelap dan energi gelap, yang mengikat galaxi seperti perekat yang tidak kasat mata. Hingga kini, peranan kedua materi itu dalam evolusi alam semesta masih merupakan misteri. Diduga, materi gelap mempercepat rotasi galaxi. Sementara energi gelap merupakan gaya yang mempercepat pemuaian alam semesta.
Bahkan sejumlah ilmuwan yakin, pemercepat partikel terbesar di dunia di Jenewa itu juga dapat menciptakan lubang hitam dalam ukuran amat kecil. Pakar fisika dari Universitas Tübingen Jerman, Prof Otto Rössler bahkan mencemaskan, lubang hitam artifisial itu akan memiliki daya hisap luar biasa, dan mampu menghancurkan Bumi.
Namun pakar fisika dari CERN, Joachim Mnich membantah ketakutan tsb.
Mnich mengatakan: “Prinsipnya pada LHC kami tidak melakukan hal baru. Kami melakukan reproduksi apa yang terjadi setiap hari di Bumi. Sejak lahirnya sekitar 4,5 milyar tahun lalu, Bumi terus dibombardir partikel kosmis, yang sebagian memiliki energi amat tinggi. Dan juga bila dengan itu dapat diciptakan lubang hitam, nyatanya sejak 4,5 milyar tahun Bumi tetap eksis. Hal itu menunjukkan partikel ini samasekali tidak berbahaya.“
Berbagai penelitian yang dilaksanakan di CERN terutama adalah riset fisika masa depan. Dalam arti, tidak memiliki aplikasi langsung bagi keseharian umat manusia di saat ini. Pengetahuan mengenai fase awal alam semesta sesudah dentuman besar, tidak akan mempengaruhi langsung kehidupan manusia. Seperti juga juga pembuktian peranan materi gelap dan energi gelap.
Gambaran ilustrasi lubang hitam massiv di alam semesta yang dibuat NASA.Bildunterschrift: Großansicht des Bildes mit der Bildunterschrift: Gambaran ilustrasi lubang hitam massiv di alam semesta yang dibuat NASA.
Pertanyaan mengenai bagaimana alam semesta tercipta? Bagaimana kehidupan muncul? Dari mana asal-usul umat manusia? Merupakan tema yang sudah ada sejak manusia dapat berfikir. Inilah yang hendak dijelaskan melalui pendekatan ilmu fisika oleh para ilmuwan. Berdasarkan teori fisika, alam semesta yang kita huni, tercipta sekitar 13 milyar tahun lalu setelah terjadinya dentumen besar. Pakar fisika partikel dari Institut Max-Planck, Prof. Siegfried Bethke menjelaskan : “Kami dengan eksperimen ini mungkin tidak dapat meniru persis dentuman besar. Akan tetapi mendekatinya. Dan kami mengharapkan melihat hasil substansial baru dalam ilmu fisika. Yang tidak hanya menjelaskan ilmu fisika partikel, melainkan juga sejarah terbentuknya alam semesta.“
Uji coba yang dilakukan di instalasi LHC di Jenewa itu akan memakan waktu cukup lama. Sebuah rangkaian ujicoba dapat berlangsung beberapa minggu atau beberapa bulan lamanya. Sebab mesin raksasa tsb tidak bisa dihidupkan atau dimatikan segampang pesawat radio atau lampu pijar. Karena prosedurnya amat rumit dan kebutuhan energinya luar biasa besarnya.
Supaya partikel yang dipercepat mendekati kecepatan cahaya tidak buyar, LHC harus dilengkapi magnet ukuran raksasa, yang menciptakan medan magnet amat kuat untuk menjaga partikel tetap pada lintasannya. Untuk meniru kondisi alam semesta seperti sesaat setelah dentuman besar, suhu di dalam instalasi pemercepat partikel itu harus direkayasa mendekati nol absulut, atau sekitar minus 237 derajat Celsius. Sistem pengawas dan sensor amat rumit dipasang di sepanjang LHC, untuk mengawasi jangan sampai terjadi kerusakan atau kebocoran.
Kompleksitas instalasi, mahalnya biaya pembangunan serta sulitnya ilmu fisika yang diujicoba dicerna oleh otak orang awam, juga menimbulkan berbagai kritik dan pertanyaan. Namun para ilmuwan pantang mundur. Mereka mengajukan alasan, hasil penelitian yang 100 tahun atau bahkan 10 tahun lalu dianggap mustahil atau tidak ada gunanya, ternyata kini banyak yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas kehidupan umat manusia. Juga asal usul alam semesta, rahasia berbagai partikel terkecil penyusun materi, serta kekuatan yang masih misterius di alam semesta, cepat atau lambat akan memiliki kegunaan langsung.
Sumber : DW World (16 September 2008)

Klik disini untuk melanjutkan »»

Wednesday, September 10, 2008

Melirik Teknologi Termoelektrik sebagai Sumber Energi Alternatif

. Wednesday, September 10, 2008
0 komentar

Pada tahun 2020 mendatang diperkirakan kebutuhan energi akan bertambah sekitar 40 persen dari kebutuhan saat ini. Teknologi termoelektrik merupakan sumber alternatif utama dalam menjawab kebutuhan energi tersebut. Di samping relatif lebih ramah lingkungan, teknologi ini sangat efisien, tahan lama, dan juga mampu menghasilkan energi dalam skala besar maupun kecil.
Teknologi termoelektrik bekerja dengan mengonversi energi panas menjadi listrik secara langsung (generator termoelektrik), atau sebaliknya, dari listrik menghasilkan dingin (pendingin termoelektrik). Untuk menghasilkan listrik, material termoelektrik cukup diletakkan sedemikian rupa dalam rangkaian yang menghubungkan sumber panas dan dingin. Dari rangkaian itu akan dihasilkan sejumlah listrik sesuai dengan jenis bahan yang dipakai.
Kerja pendingin termoelektrik pun tidak jauh berbeda. Jika material termoelektrik dialiri listrik, panas yang ada di sekitarnya akan terserap. Dengan demikian, untuk mendinginkan udara, tidak diperlukan kompresor pendingin seperti halnya di mesin-mesin pendingin konvensional.
Voyager I dan II adalah contoh pesawat ruang angkasa yang memanfaatkan teknologi termoelektrik. Voyager yang diterbangkan NASA tahun 1977 ini dirancang khusus untuk terbang menjauhi Tata Surya sehingga solar cell tidak dapat dipergunakan.
Dalam menempuh perjalanan yang tak terbatas itu diperlukan pula energi yang besar dan stabil untuk mengirimkan data ke Bumi. Untuk itulah Voyager menggunakan teknologi termoelektrik dengan plutonium-238 sebagai sumber panasnya (Radioisotop Thermoelectric Generators-RTGs). Sistem ini mampu membangkitkan listrik sebesar 400 W, serta secara kontinu dan tanpa perawatan apa pun, Voyager tetap dapat mengirimkan data walau sudah terbang selama 30 tahun.
Keberhasilan ini memberikan peluang yang luas dalam aplikasi lainnya. Salah satunya adalah yang dikerjakan Nissan, dengan memanfaatkan panas dari mesin mobil.
Seperti kita ketahui, dari 100 persen bahan bakar yang dipakai, hanya sekitar 30 persen yang dipergunakan untuk menggerakkan mobil. Sebagian besar energi terbuang dalam bentuk panas di radiator dan gas buangan. Di antara kedua panas tersebut, gas buangan memiliki perbedaan panas lebih tinggi, yakni sekitar 300-700 derajat Celsius sehingga lebih baik untuk dikonversikan menjadi energi penggerak mobil. Dengan memanfaatkan gas buangan ini, mobil-mobil produksi Nissan mampu menghemat bahan bakar sebesar 10 persen.
Contoh menarik lainnya adalah yang dilakukan oleh Seiko Co Ltd. Seiko memasarkan jam termoelektrik sejak tahun 1998 dengan nama Seiko Thermic.
Jam tangan ini memanfaatkan perbedaan suhu tubuh dan suhu sekitarnya. Bahan yang digunakan, bismut-tellurium, mampu menghasilkan listrik sebesar 0,2 mV/ oC. Jika 1.000 buah material tersebut dipasang seri, tentu akan menghasilkan tegangan listrik 0,2 V dalam setiap perbedaan 1 oC. Untuk itu, Seiko membuat unit pembangkit listrik, terdiri atas 10 buah modul termoelektrik yang masing-masing berisi 100 kawat mikro. Dari setiap unit inilah dihasilkan energi listrik sebesar 0,15 V untuk mengisi baterai litium pada jam tersebut.
Aplikasi dalam pendingin termoelektrik lebih luas lagi. Pendingin wine di hotel Jepang sudah banyak yang mempergunakan teknologi ini. Pendingin termoelektrik dapat diletakkan dengan leluasa di bawah tempat tidur karena tidak menimbulkan suara dan getaran.
Mitsubishi saat ini juga sudah memproduksi kulkas termoelektrik yang mampu menghemat energi 20 persen dibandingkan dengan kulkas biasa. Dalam dunia komputer, termoelektrik dipergunakan untuk mendinginkan CPU komputer.
Toshiba mengembangkan sebuah alat yang dapat mendinginkan sumber panas itu sendiri. Panas yang dihasilkan dari sumber panas dalam komputer digunakan untuk membangkitkan listrik, kemudian listrik itu dipergunakan untuk memutar kipas yang diarahkan ke sumber panas. Perangkat ini mampu menurunkan panas sekitar 32 oC.
Jika alat ini ditambahkan dengan alat pengontrol, tentu bisa dikontrol pula suhu yang ingin dicapai oleh sumber panas tersebut, tanpa menggunakan energi dari luar, baik untuk pendinginnya ataupun untuk penghasil listriknya.

Sejarah penemuan energi termoelektrik
Fenomena termoelektrik pertama kali ditemukan tahun 1821 oleh ilmuwan Jerman, Thomas Johann Seebeck. Ia menghubungkan tembaga dan besi dalam sebuah rangkaian. Di antara kedua logam tersebut lalu diletakkan jarum kompas. Ketika sisi logam tersebut dipanaskan, jarum kompas ternyata bergerak. Belakangan diketahui, hal ini terjadi karena aliran listrik yang terjadi pada logam menimbulkan medan magnet. Medan magnet inilah yang menggerakkan jarum kompas. Fenomena tersebut kemudian dikenal dengan efek Seebeck.
Penemuan Seebeck ini memberikan inspirasi pada Jean Charles Peltier untuk melihat kebalikan dari fenomena tersebut. Dia mengalirkan listrik pada dua buah logam yang direkatkan dalam sebuah rangkaian. Ketika arus listrik dialirkan, terjadi penyerapan panas pada sambungan kedua logam tersebut dan pelepasan panas pada sambungan yang lainnya. Pelepasan dan penyerapan panas ini saling berbalik begitu arah arus dibalik. Penemuan yang terjadi pada tahun 1934 ini kemudian dikenal dengan efek Peltier. Efek Seebeck dan Peltier inilah yang kemudian menjadi dasar pengembangan teknologi termoelektrik.
Setelah itu, perkembangan termoelektrik tidak diketahui dengan jelas sampai kemudian dilanjutkan oleh WW Coblenz pada tahun 1913 yang menggunakan tembaga dan constantan (campuran nikel dan tembaga). Dengan efisiensi konversi sebesar 0,008 persen, sistem yang dibuatnya itu berhasil membangkitkan listrik sebesar 0,6 mW.
AF Ioffe melanjutkan lagi dengan bahan-bahan semikonduktor dari golongan II-V, IV-VI, V-VI yang saat itu mulai berkembang. Hasilnya cukup mengejutkan, di mana efisiensinya meningkat menjadi 4 persen. Ioffe melakukan satu lompatan besar di mana ia berhasil menyempurnakan teori yang berhubungan dengan material termoelektrik. Teori itu dibukukan tahun 1956 yang kemudian menjadi rujukan para peneliti hingga saat ini.
Penelitian termoelektrik muncul kembali tahun 1990-an setelah sempat menghilang hampir lima dasawarsa karena efisiensi konversi yang tidak bertambah. Setidaknya ada tiga alasan yang mendukung kemunculan tersebut.
Pertama, ada harapan besar ditemukannya material termoelektrik dengan efisiensi yang tinggi, yaitu sejak ditemukannya material superkonduktor High-Tc pada awal tahun 1986 dari bahan yang selama ini tidak diduga (ceramic material).
Kedua, sejak awal 1980-an, teknologi material berkembang pesat dengan kemampuan menyusun material tersebut dalam level nano. Teknologi analisis dengan XPS, UPS, STM juga memudahkan analisis struktur material.
Ketiga, pada awal tahun 1990, tuntutan dunia tentang teknologi yang ramah lingkungan sangat besar. Ini memberikan imbas kepada teknologi termoelektrik sebagai sumber energi alternatif.

Pengembangan energi termoelektrik
Banyak aplikasi lain penggunaan energi termoelektrik yang sedang dikembangkan saat ini, seperti pemanfaatan perbedaan panas di dasar laut dan darat, atau pemanfaatan panas bumi. Kesulitan terbesar dalam pengembangan energi ini adalah mencari material termoelektrik yang memiliki efisiensi konversi energi yang tinggi.
Parameter material termoelektrik dilihat dari besar figure of merit suatu material. Idealnya, material termoelektrik memiliki konduktivitas listrik tinggi dan konduktivitas panas yang rendah. Namun kenyataannya sangat sulit mendapatkan material seperti ini, karena umumnya jika konduktivitas listrik suatu material tinggi, konduktivitas panasnya pun akan tinggi.
Material yang banyak digunakan saat ini adalah Bi 2 Te 3, PbTe, dan SiGe. Saat ini Bi2 Te3 memiliki figure of merit tertinggi. Namun, karena terurai dan teroksidasi pada suhu di atas 500 oC, pemakaiannya masih terbatas.
Rendahnya figure of merit ini menyebabkan rendahnya efisiensi konversi yang dihasilkan, di mana saat ini efisiensinya masih berkisar di bawah 10 persen. Nilai ini masih berkurang sampai 5 persen setelah menjadi sebuah sistem pembangkit listrik. Masih cukup jauh dibandingkan dengan solar cell yang sudah mencapai 15 persen.
Namun, penelitian ini masih terus berkembang, apalagi setelah Yamaha Co Ltd berhasil menaikkan figure of merit sebesar 40 persen dari yang ada selama ini.

Klik disini untuk melanjutkan »»

Monday, August 18, 2008

Robot Peragawati

. Monday, August 18, 2008
1 komentar

Jepang yang dikenal dengan industri robotnya kembali mengguncang dunia dengan menciptakan robot peragawati. Robot buatan Institut Teknologi Prefektur Hyogo dan didukung Organisasi Industri Riset Baru di Kobe itu didesain untuk menirukan gerak-gerik seorang peragawati yang sedang bergaya di atas catwalk.Seperti dilaporkan Kyodo di Tokyo, Selasa (22/7), robot bernama Manekin Robotto itu bisa berlenggak-lenggok persis seperti peragawati. Robot yang memiliki postur tubuh setinggi 160 cm luwes sekali menggerakkan badan, mulai dari gaya berjalan, menolehkan kepala, lengan, pinggang, hingga bagian tubuh lainnya. Tentu saja jangan samakan dengan model sebenarnya.Menurut para perancangnya, robot peragawati itu cocok dimanfaatkan untuk kegiatan fashion show ataupun acara promosi lainnya. Harganya juga relatif murah karena hanya dijual sekitar 940 dollar AS.
Namun, robot tersebut masih memerlukan tahapan akhir berupa polesan wajah dan lapisan kulit untuk membalut kerangka besi dan kabel-kabel yang melingkupinya. Saat ini, prototipenya masih berupa kerangka besi dan kabel-kabel.
Kulit penutupnya juga akan dibuat menyerupai kulit manusia, sehingga betul-betul terlihat seperti seorang gadis model yang cantik, tentu saja dengan membuat wajah bak seorang peragawati terkenal.Jepang dikenal sebagai surga bagi robot karena para peneliti di sana tak henti-hentinya bereksperimen mengembangkan beraragam jenis robot. Robot huamnoid paling canggih selama ini adalah Asimo buatan Honda, yang bisa bertingkah laku seperti manusia umumnya seperti menari, berjalan, dan berlari, hingga menjadi asisten dokter.Industri robot di Jepang kini memang cenderung mengembangkan jenis robot yang bisa menjadi pelayan dan asisten bagi manusia. Hal tersebut dipicu permintaan akibat semakin besarnya komposisi kelompok masyarakat berusia lanjut di Jepang dalam 50 tahun ke depan.

Klik disini untuk melanjutkan »»

Transistor Terkecil Dibuat dari Goresan Pensil

.
0 komentar

Dalam satu goresan pensil mungkin dapat disusun ribuan transistor. Bagaimana tidak, untuk membuat sebuah transistor terkecil di dunia, hanya cukup 10 atom graphene dari bahan baku pensil, grafit. Seperti dilaporkan dalam jurnal Science edisi terbaru, kesuksesaan ini buah kolaborasi Dr Kostya Novoselov dan Profesor Andre Geim dari Sekolah Fiiska dan Astronomi Universitas Manchester, Inggris. Berkat temuannya, sebuah transistor dapat dibuat dengan ukuran lebih kecil dari sebuah molekul.
Semakin kecil ukuran transistor, semakain besar peluangnya menanamkannya dalam rangkaian sebuha chip. Sejak chip pertama kali dikembangkan tahun 1960-an, para ilmuwan terus berusaha memperkecil ukuran sebuah transistor karena pengaruh hukum Law yang dikemukakan Gordon Moore, pendiri Intel. Hukum yang sebenarnya prediksi Moore tersebut menjadi target perusahaan chip untuk melipatgandakan jumlah transistor dalam satu keping chip prosesor setiap dua tahun.
Miniaturisasi transistor terus menjadi tantangan dalam industri komputasi. Namun, teknologi berbasis silikon yang dipakai saat ini diperkirakan menghadapi batas antara 10-20 tahun ke depan. Ukuran sebuah komponen dalam chip tidak mungkin diperkecil kurang dari 10 nanometer karena pada kondisi tersebut semua oksida semikonduktor, termasuk silikon, tidak terkontrol jika dicetak di atas permukaan seperti air yang diteteskan di atas loyang panas.
Graphene dapat menjawab tantangan tersebut karena tetap stabil pada suhu tinggi dan bersifat konduktif atau menghantar listrik dalam ukuran satu nanometer sekalipun. Penelitian di Manchester telah membuktikan kemampuan graphene membentuk komponen listrik yang berkuran di bawah 10 nanometer.
Namun, jangan berharap dulu bisa membuat superprosesor dengan transistor ini. Sebab, fokus peneliti baru pada tahap memperkecil ukuran transistor dan belum sampai pada tahap merangkainya menjadi sirkuit elektronika.
"lagipula, belum ada teknologi yang dapat memotong dalam ukuran nanometer secara presisi. Namun, ini sama besarnya dengan tantangan yang harus dihadapi pascasilikon. Setidaknya, kami punya material yang dapat memenuhi tantangan tersebut," ujar Geim.
Material ini ditemukan pertama kali oleh Geim dan timnya empat tahun lalu dan menjadi topik hangat dalam penelitian fisika dan material saat ini. Graphene merupakan material pertama yang memiliki ketebalan satu atom karena bisa digambarkan sebagai atom-atom grafit yang disusun berjajar.(PHYSORG/WAH)
Sumber : Kompas (20 April 2008)

Klik disini untuk melanjutkan »»

Thursday, August 7, 2008

Video Game Perpanjang Hidup Pengidap Kanker

. Thursday, August 7, 2008
0 komentar

Anak-anak ataupun orang dewasa menyukai yang namanya video game. Tapi jangan salah, video game walaupun sering merugikan, namun juga ada untungnya. Menurut Dr. Pamela M. Kato, seorang dokter dari Unversitas Medical Center Utrecht di Belanda, mengungkapkan, pasien yang mengidap kanker, baik anak-anak ataupun orang dewasa dapat merasa ada harapan hidup yang lebih panjang.

Kato menyatakan hal tersebut dalam Jurnal Pediatrics-nya, bahwa video game dapat membantu meningkatkan usia hidup yang lebih panjang dari orang-orang muda atupun dewasa yang mengidap kanker. Kato meneliti secara acak dari 373 pasien pengidap kanker, baik pria dan wanita, yang berusia 13 hingga 29 tahun. Kemudian para pasien tersebut masuk ke dalam treatment center di US, Kanada dan Australia untuk memainkan sebuah standard video game “Re-Mission” atau “Indiana Jones and the Emperor’s Tomb”.


Dalam game Re-Mission (http://www2.re-mission.net), yang dikembangkan oleh HopeLab, sebuah perusahan non-profit dari California, pemain dapat mengontrol robot kecil bernama “Roxxi” yang berjalan di lingkungan game 3D, yang mempresentasikan isi body pasien berusia muda yang mengidap kanker. Pemain dapat menggunakan Roxxi untuk menghancurkan sel kanker dan mengontrol efeknya, kemudian memenangkan game dengan fasilitas kemoterapi obat dan pil antibiotic, menggunakan teknik relaxation, makan mkanan yang bergizi dan menjaga kondisi tubuh dari serangan tipe kanker lainnya.

Pasien dalam dua kelompok game tersebut masing-masing bermain video game dalam waktu minimla satu jam dalam satu minggu. Hasil monitoring pil ‘elektronik’ tersebut telah menunjukkan peningkatan sebesar 16% dalam konsumsi antibiotic dalam grup game Re-Mission. Selin itu, hasilnya juga lebih banyak, sekitar 62,3% dari total penggunaan obat antibiotic, bila dibandingkan dengan grup game Indiana Jones, yang hanya 52,5% dalam pemakaian antibiotic dalam game. Selain itu, tingkat penggunaan kemoterapi obat juga lebih tinggi di grup game Re-Mission.

Dari hasil tersebut, Kato menilai bahwa game tersebut mulai bekerja, karena telah memberikan pasien sebuah pandangan baru dari penyakit kanker yang diidap mereka. Sebagai contoh, mereka sekarang dapat berpikir bahwa kemoterapi dapat membasmi kanker, sehingga membuat kepala mereka botak. Menurut Kato, hal tersebut walaupun perubahan yang kecil, namun mampu memberikan mereka harapan yang baru.

Sumber : http://www.beritanet.com/

Klik disini untuk melanjutkan »»

LED Bisa Seterang Bohlam

.
1 komentar

Penggunaan LED (light emitting diode) sebagai alat penerangan belum bisa menggeser bohlam atau lampu neon (TL). Meski lebih efisien dalam mengonsumsi daya, kekuatan cahaya yang dipancarkan belum seterang bola lampu.

Namun, para ahli elektronika di Universitas Glasgow, Skotlandia sudah mengatasi masalah tersebut. Mereka menemukan cara membuat LED seterang bohlam. Bahkan, konsumsi dayanya lebih rendah daripada bohlam sehingga peluangnya menggantikan semakin besar.

LED dapat ditingkatkan intensitas cahaya yang dipancarkannya karena para peneliti membuat lubang-lubang mikroskopis di permukaannya. Proses pembuatan lubang-lubang mikroskopis ini disebut nano imprint litography.

"Sejauh ini, LED belum layak menjadi standar alat penerangan di rumah-rumah karena proses pembuatan lubang-lubang tersebut sangat mahal dan boros waktu," ujar Dr. Faiz Rahman, ketua peneliti dalam proyek yang disokong Institut Fotonik Universitas Strathclyde.

Meskipun demikian, timnya sudah menemukan cara pencetakan miliaran lubang ke banyak LED dengan kecepatan tinggi dan biaya murah. "Artinya, masa pakai bolam akan segera berakhir," ujarnya.

Sumber : Kompas (8 Januari 2008)


Klik disini untuk melanjutkan »»
 
Namablogkamu is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com