Kekristenan
| Penggolongan | Abrahamik |
|---|---|
| Kitab suci | Alkitab (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru) |
| Teologi | Monoteistik |
| Wilayah | Di seluruh dunia |
| Bahasa | Aramaik, Ibrani, Yunani dan Latin |
| Daerah | Dunia Kristiani |
| Pendiri | Yesus |
| Didirikan | Abad ke-1 M Yudea, Kekaisaran Romawi |
| Terpisah dari | Yudaisme[note 1] |
| Jumlah pengikut | ca 2.38 miliar |
| Bagian dari seri tentang |
| Kekristenan |
|---|
|
|
Kekristenan[note 2] adalah agama monoteistik Abrahamik berasaskan riwayat hidup dan ajaran Yesus Kristus yang mengakui bahwa Yesus Putra Allah dan dibangkitkan dari kematian setelah penyaliban-Nya, yang kedatangannya sebagai Mesias (Kristus) dinubuatkan dalam Perjanjian Lama dan dicatat dalam Perjanjian Baru, serta tradisi suci apostolik, yang merupakan inti sari agama ini. Agama Kristen adalah agama terbesar di dunia berdasarkan jumlah populasi,[6][7] dengan lebih dari 2,64 miliar pemeluk, atau sekitar 2,6 miliar jiwa[8][9][10] atau 33,1% dari populasi dunia, yang disebut "umat Kristen".[note 3] Umat Kristen percaya bahwa Yesus adalah Putra Allah dan Juru Selamat umat manusia yang datang sebagai Mesias sebagaimana yang dinubuatkan dalam Alkitab Perjanjian Lama.[11]
Teologi Kristen terangkum dalam pengakuan-pengakuan seperti Pengakuan Para Rasul dan Pengakuan Nikea. Pengakuan-pengakuan iman ini berisi pernyataan bahwa Yesus telah menderita, kematian Yesus, dimakamkan, turun ke alam maut, dan bangkit dari maut, untuk mengaruniakan kehidupan kekal kepada siapa saja yang percaya kepadanya dan mengandalkannya demi beroleh pengampunan atas dosa-dosa yang telah mereka perbuat. Pengakuan-pengakuan ini juga menyatakan bahwa Yesus secara jasmani naik ke surga, tempat ia memerintah bersama Allah Bapa dalam persekutuan Roh Kudus, dan bahwa ia kelak datang kembali untuk menghakimi orang-orang hidup dan orang-orang mati, serta mengaruniakan kehidupan kekal bagi para pengikutnya. Inkarnasi, karya pelayanan, penyaliban, dan kebangkitannya sering kali disebut "Injil", yang berarti "kabar baik".[note 4] Injil juga berarti catatan-catatan riwayat hidup dan ajaran Yesus, empat di antaranya—Injil Matius, Injil Markus, Injil Lukas, dan Injil Yohanes—dianggap kanonik (sahih) dan dijadikan bagian dari Alkitab Kristen.
Agama Kristen adalah agama Abrahamik yang bermula sebagai sebuah sekte dari agama Yahudi era Kenisah kedua pada pertengahan abad pertama tarikh Masehi.[12][13] Sekte ini berasal dari Yudea, kemudian menyebar dengan pesat ke Eropa, Syam, Mesopotamia, Anatolia, Transkaukasia, Mesir, Etiopia, serta India, dan pada akhir abad ke-4 telah menjadi agama resmi Kekaisaran Romawi.[14][15][16] Sesudah Abad Penjelajahan, agama Kristen menyebar pula ke Amerika (benua), Australasia, Afrika Sub-Sahara, dan ke segenap penjuru dunia melalui karya misi dan kolonialisme.[17][18][19] Agama Kristen telah berperan besar dalam pembentukan Peradaban Dunia Barat.[20][21][22][23][24]
Sepanjang sejarahnya, agama Kristen telah mengalami skisma dan sengketa teologi yang memunculkan bermacam-macam gereja dan denominasi. Tiga cabang agama Kristen yang terbesar di dunia adalah Gereja Katolik Roma, Gereja Ortodoks Timur, dan rumpun besar denominasi Kristen Protestan. Gereja Katolik dan Gereja Ortodoks Timur saling memutuskan hubungan persekutuan dalam peristiwa Skisma Timur–Barat pada 1054, sementara rumpun Kristen Protestan muncul pada zaman reformasi abad ke-16 sebagai pecahan dari Gereja Katolik.[25]
Etimologi
[sunting | sunting sumber]Umat Kristen perdana yang berkebangsaan Yahudi menyebut diri pengikut-pengikut jalan (bahasa Yunani: τῆς ὁδοῦ, tês hodoû), mungkin mengacu kepada nas Yesaya 40:3, "persiapkanlah di padang gurun jalan untuk TUHAN."[26][note 5] Berdasarkan nas Kisah Para Rasul 11:26, istilah "orang Kristen" (bahasa Yunani: Χρῑστῐᾱνός, Krīstiānós) berarti "pengikut Kristus", mengacu kepada murid-murid Yesus, dan pertama kali dipakai di kota Antiokhia oleh warga non-Yahudi.[32] Istilah "Kekristenan" (bahasa Yunani: Χρῑστῐᾱνισμός, Krīstiānismós) pertama kali dipakai Ignatius dari Antiokhia di dalam surat-suratnya yang ditulis sekitar tahun 100 Masehi.[33] Nama Yesus berasal dari bahasa Yunani Kuno: Ἰησοῦς Iēsous, kemungkinan dari bahasa Ibrani / Aram: יֵשׁוּעַ Yēšūaʿ.
Keyakinan
[sunting | sunting sumber]Ada banyak perbedaan tafsir dan pandangan mengenai Alkitab dan Tradisi Suci yang merupakan landasan agama Kristen.[34] Perbedaan-perbedaan teologi yang tak terukunkan, serta kurangnya kata sepakat mengenai pokok-pokok iman Kristen, menyebabkan umat Kristen Katolik, Ortodoks dan Protestan sering kali tidak mengakui umat dari denominasi-denominasi Kristen tertentu sebagai sesama orang Kristen.[35]
Syahadat
[sunting | sunting sumber]Ikhtisar dari maklumat doktrin atau ungkapan keyakinan agama Kristen disebut syahadat (dari bahasa bahasa Arab: الشهادة, asy-syahadah, yang berarti "kesaksian") atau kredo (dari bahasa Latin credo, yang berarti "aku percaya"); umat Kristen Protestan di Indonesia lazimnya menggunakan istilah "pengakuan iman" (terjemahan dari istilah khas Protestan dalam bahasa Latin, confessio fidei). Syahadat-syahadat agama Kristen mula-mula disusun sebagai rumusan ayat-ayat upacara pembaptisan, yang di kemudian hari dijabarkan lebih luas lagi sewaktu terjadi sengketa Kristologi pada abad ke-4 dan ke-5, sehingga akhirnya menjadi rumusan-rumusan ungkapan iman.
Banyak denominasi Protestan Injili menolak syahadat sebagai ungkapan iman yang definitif, bahkan meskipun mereka setuju dengan sebagian atau seluruh isi syahadat itu. Denominasi-denominasi Protestan Baptis bersikukuh menjadi kaum tak bersyahadat, "yakni tidak berusaha menetapkan pengakuan-pengakuan iman yang bersifat otoritatif dan mengikat sebagai pegangan bersama."[36]: hlm.111 Golongan lain yang juga menolak syahadat adalah denominasi-denominasi Protestan yang lahir dari Gerakan Restorasi di Amerika Serikat pada awal abad ke-19.[37][38]: 14–15 [39]: 123

Syahadat Para Rasul adalah butir-butir ungkapan iman Kristen yang paling berterima. Syahadat ini digunakan oleh sejumlah denominasi Kristen, baik untuk keperluan liturgi (peribadatan) maupun untuk keperluan katekese (pengajaran), sebagaimana yang jelas terlihat di Gereja-Gereja berliturgi dalam tradisi Kristen Barat, antara lain Gereja Katolik Ritus Latin, gereja-gereja Lutheran, gereja-gereja Anglikan, dan Gereja Ortodoks Ritus Barat. Syahadat ini juga digunakan oleh gereja-gereja Presbiterian, gereja-gereja Metodis, dan gereja-gereja Kongregasional. Inti sari dari Syahadat Para Rasul, yang disusun antara abad ke-2 dan ke-9 ini, adalah ajaran-ajaran mengenai Tritunggal dan Allah Sang Mahapencipta. Tiap-tiap ajaran dalam syahadat ini dapat ditelusuri asal-usulnya sampai ke pernyataan-pernyataan yang muncul pada Kekristenan pada abad ke-1 (masa hidup rasul-rasul Kristus). Syahadat ini tampaknya digunakan sebagai semacam ringkasan ajaran agama Kristen bagi para calon penerima baptisan di gereja-gereja Kota Roma.[40]
Pokok-pokok keyakinan dalam Syahadat Para Rasul adalah:
- Percaya akan Allah Bapa, Yesus sebagai Putra Allah, dan Roh Kudus
- Percaya bahwa Kristus telah meninggal dunia, turun ke alam barzah, bangkit, dan naik ke surga
- Percaya akan kekudusan Gereja dan persekutuan orang-orang kudus
- Percaya akan kedatangan Kristus kali kedua, hari penghakiman, dan keselamatan umat beriman.
Syahadat Nikea disusun dengan tujuan utama melawan paham Arianisme dalam penyelenggaraan Konsili Nikea pada 325 M dan Konsili Konstantinopel pada 381 M,[41][42] kemudian disahkan menjadi syahadat Kristen sejagat oleh Konsili Efesus I pada 431 M.[43]
Rumusan Kalsedon atau Syahadat Kalsedon disusun dalam penyelenggaraan Konsili Kalsedon pada 451.[44] Syahadat yang ditolak oleh Gereja-Gereja Ortodoks Oriental ini[45] mengajarkan bahwa Kristus "dikenal dalam dua kodrat yang tak tercampur, tak terubahkan, tak terbagi, dan tak terpisahkan," satu kodrat ilahi dan satu kodrat insani, yang masing-masing sempurna adanya, tetapi juga sempurna manunggal dalam satu pribadi.[46]
Syahadat Atanasius, yang diterima di Gereja Barat sebagai syahadat yang setaraf dengan Syahadat Nikea dan Syahadat Kalsedon, berisi kalimat "bahwasanya kami menyembah satu Allah dalam ketritunggalan, dan ketritunggalan dalam keesaan; tanpa menyama-nyamakan pribadi maupun membeda-bedakan hakikat."[47]
Sebagian besar umat Kristen (Katolik, Ortodoks Timur, Ortodoks Oriental, maupun Protestan) menerima pemakaian syahadat, dan menggunakan sekurang-kurangnya salah satu dari syahadat-syahadat di atas.[48]
Yesus
[sunting | sunting sumber]Asas utama agama Kristen adalah kepercayaan pada Yesus sebagai Putra Allah dan Mesias (Kristus). Umat Kristen percaya bahwa Yesus, selaku Mesias, diurapi oleh Allah menjadi juru selamat umat manusia, dan yakin bahwa Yesus datang ke dunia sebagai penggenapan nubuat tentang Mesias yang termaktub dalam Alkitab Perjanjian Lama. Konsep Mesias dalam agama Kristen pada dasarnya berbeda dari konsep Mesias dalam agama Yahudi. Inti dari keyakinan Kristen adalah bahwasanya dengan percaya dan menerima kematian dan kebangkitan Yesus, umat manusia yang berdosa dapat dirukunkan kembali dengan Allah, dan dengan demikian beroleh tawaran keselamatan dan janji hidup kekal.[49]
Meskipun ada berbagai macam perbedaan pandangan teologi mengenai kodrat Yesus pada abad-abad permulaan sejarah agama Kristen, pada umumnya umat Kristen percaya bahwa Yesus adalah penjelmaan Allah dan adalah "Allah sejati sekaligus manusia sejati" (atau seutuhnya ilahi dan seutuhnya insani). Karena menjelma menjadi manusia yang seutuhnya, maka Yesus juga mengalami sakit derita dan godaan hidup selayaknya seorang manusia fana, tetapi tidak berbuat dosa. Sebagai Allah yang seutuhnya, Yesus hidup kembali sesudah kematiannya. Menurut Alkitab Perjanjian Baru, Yesus bangkit dari antara orang mati,[50] naik ke surga, duduk di sebelah kanan Sang Bapa,[51] dan pada akhirnya akan datang kembali (Kisah Para Rasul 1:9–11) untuk menggenapi nubuat-nubuat selebihnya yang berkaitan dengan Mesias, yakni kebangkitan orang mati, penghakiman terakhir, dan pendirian Kerajaan Allah.
Menurut Injil Matius dan Injil Lukas, Yesus dikandung berkat kuasa Roh Kudus, dan dilahirkan oleh Perawan Maria. Hanya sedikit saja kisah masa kanak-kanak Yesus yang diriwayatkan dalam injil-injil sahih, tetapi ada pula injil-injil tentang masa kanak-kanak Yesus yang populer pada Abad Kuno. Sebaliknya masa dewasa Yesus, teristimewa sepekan menjelang kematiannya, justru diriwayatkan secara terperinci oleh injil-injil yang terdapat dalam kumpulan kitab suci Perjanjian Baru, karena masa-masa inilah yang diyakini paling penting. Riwayat-riwayat Alkitab tentang karya pelayanan Yesus meliputi peristiwa pembaptisannya, mukjizat-mukjizatnya, khotbah-khotbahnya, ajaran-ajarannya, serta sikap dan perbuatannya.
Kematian dan kebangkitan
[sunting | sunting sumber]
Bagi umat Kristen, kebangkitan Yesus adalah batu penjuru iman mereka (1 Korintus 15) dan peristiwa terpenting dalam sejarah.[52] Di antara sekian banyak keyakinan Kristen, kematian dan kebangkitan Yesus adalah dua peristiwa utama yang melandasi sebagian besar doktrin dan teologi Kristen.[53] Menurut Alkitab Perjanjian Baru, Yesus disalibkan, meninggal secara jasmaniah, dimakamkan, dan bangkit dari antara orang mati tiga hari kemudian (Yohanes 19:30–31, Markus 16:1, Markus 16:6).
Alkitab Perjanjian Baru meriwayatkan beberapa peristiwa penampakan diri Yesus pascabangkit kepada kedua belas rasul dan murid-muridnya, termasuk peristiwa penampakan yang disaksikan oleh "lebih dari lima ratus orang saudara sekaligus" (1 Korintus 15:6), sebelum kenaikan Yesus ke surga. Kematian dan kebangkitan Yesus diperingati oleh umat Kristen dalam semua ibadat, dan diperingati secara lebih khusus selama Pekan Suci (sudah termasuk Hari Jumat Agung dan Hari Minggu Paskah).
Kematian dan kebangkitan Yesus lazimnya dianggap sebagai peristiwa-peristiwa terpenting dalam teologi Kristen, salah satu sebabnya adalah karena peristiwa-peristiwa ini menunjukkan bahwa Yesus berkuasa atas hidup dan mati, dan oleh karena itu berwenang dan berkuasa untuk menganugerahkan hidup kekal kepada umat manusia.[54]
Gereja-Gereja Kristen mengakui dan mengajarkan riwayat Perjanjian Baru mengenai kebangkitan Yesus dengan segelintir pengecualian.[55] Beberapa pengkaji modern menjadikan kepercayaan para pengikut Yesus akan kebangkitannya sebagai titik tolak dalam menetapkan kesinambungan antara sosok Yesus selaku tokoh sejarah dan sosok Yesus dalam pewartaan Gereja perdana.[56] Segolongan umat Kristen liberal tidak mengakui kebangkitan jasmaniah secara harfiah,[57][58] dan menganggap riwayat kebangkitan Yesus sekadar sebagai mitos yang kaya akan perlambang dan bermanfaat bagi pertumbuhan rohani. Argumen-argumen terkait keyakinan akan kematian dan kebangkitan Yesus muncul dalam banyak debat keagamaan dan dialog-dialog lintas agama.[59] Rasul Paulus, salah seorang pemeluk perdana sekaligus misionaris agama Kristen, pernah menulis bahwa "andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu" (1 Korintus 15:14).[60]
Keselamatan
[sunting | sunting sumber]Sebagaimana orang Yahudi dan orang Romawi penyembah berhala pada zamannya, Rasul Paulus percaya bahwa korban persembahan berkhasiat menciptakan ikatan kekerabatan baru, menyucikan, dan mendatangkan kehidupan kekal.[61] Bagi Paulus, korban persembahan yang diperlukan adalah kematian Yesus. Bangsa-bangsa lain, yang berkat pengorbanan nyawa Yesus telah menjadi "milik kepunyaan Kristus", juga adalah keturunan Abraham dan "berhak menerima janji Allah", sama seperti bangsa Israel (Galatia 3:29).[62] Allah yang membangkitkan Yesus dari antara orang mati juga mengaruniakan kehidupan baru bagi "tubuh fana" umat Kristen dari bangsa-bangsa lain, yang bersama-sama dengan bangsa Israel telah menjadi "anak-anak Allah", dan oleh karena itu tidak lagi "hidup menurut daging" (Roma 8:9,11,16).[61]
Gereja-gereja modern cenderung lebih memusatkan perhatiannya pada permasalahan tentang bagaimana umat manusia dapat diselamatkan dari keadaan berdosa dan maut yang universal sifatnya itu, daripada permasalahan tentang bagaimana orang Yahudi dan bangsa-bangsa lain dapat menjadi anggota keluarga Allah. Menurut doktrin Katolik maupun Protestan, keselamatan datang berkat pengorbanan nyawa Yesus menggantikan umat manusia dan berkat kebangkitannya. Gereja Katolik mengajarkan bahwa keselamatan tidak terwujud tanpa adanya kesetiaan di pihak umat Kristen; orang-orang yang telah bertobat dan hendak menjadi pengikut Kristus harus hidup menurut prinsip-prinsip cinta kasih, dan sepatutnya harus dibaptis.[63][64] Martin Luther mengajarkan bahwa baptisan diperlukan demi beroleh keselamatan, akan tetapi gereja Lutheran dan gereja-gereja Protestan lainnya pada zaman modern cenderung mengajarkan bahwa keselamatan adalah anugerah yang diperoleh seseorang berkat kasih karunia Allah, yang kadang-kadang didefinisikan sebagai "kerahiman tanpa pandang kelayakan", bahkan di luar dari baptisan.
Umat Kristen berbeda pandangan mengenai sejauh mana keselamatan seseorang telah ditakdirkan sejak semula oleh Allah. Teologi Kalvinis memberi penekanan khusus pada kasih karunia dengan mengajarkan bahwa tiap-tiap orang sama sekali tidak mampu membebaskan diri sendiri dari dosa, akan tetapi kasih karunia yang menguduskan itu tak terelakkan.[65] Sebaliknya umat Kristen Katolik, Ortodoks, dan Protestan Arminian percaya bahwa pelaksanaan kehendak bebas diperlukan untuk beriman pada Yesus.[66]
Tritunggal
[sunting | sunting sumber]
Istilah "Tritunggal" mengacu pada ajaran bahwa Allah yang Esa[68] terdiri atas tiga pribadi berlainan yang serentak ada secara kekal, yakni