Lompat ke isi

Anupubbasikkhā

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Sang Buddha Gotama kadang-kadang menggambarkan praktik ajaran-Nya sebagai latihan bertahap (Pali: anupubbasikkhā), pelaksanaan bertahap (anupubbakiriyā), dan kemajuan bertahap (anupubbapatipadā) karena Jalan Mulia Berunsur Delapan melibatkan proses transformasi batin dan jasmani yang terungkap selama periode yang panjang, bukan melalui pencapaian pengetahuan akhir yang mendadak.[1]

Penekanan pada latihan bertahap mencerminkan pemahaman bahwa sebagaimana pola perilaku yang tidak bermanfaat dan kekotoran batin telah terakumulasi selama jangka waktu yang panjang, mengikisnya pun membutuhkan komitmen pengembangan batin yang bertahap dan berkelanjutan.[2]

Tahapan pelatihan

[sunting | sunting sumber]

Dalam khotbah-khotbah seperti Gaṇakamoggallāna Sutta (MN 107), Cūḷahatthipadopama Sutta (MN 27), dan Sāmaññaphala Sutta (DN 2), Buddha merinci latihan bertahap sebagai urutan langkah bertahap yang dilakukan oleh seorang praktisi:[1][3]

  1. Moralitas (sīla-sampadā): Menaati prinsip-prinsip sila dasar dan menjaga kemurnian dalam perilaku jasmani dan ucapan.
  2. Penjagaan Indra (indriyasaṁvara): Menjaga enam pintu indra (mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan pikiran) untuk mencegah ketertarikan dan keengganan terhadap objek-objek indra.
  3. Kesederhanaan dalam Makan (bhojane mattaññutā): Mengonsumsi makanan dengan penuh perhatian, semata-mata untuk memelihara kesehatan fisik dan menunjang kehidupan spiritual.
  4. Pengabdian pada Kewaspadaan (jāgariyānuyoga): praktik membersihkan pikiran dari hal-hal yang menghalangi (āvaraṇīyehi dhammehi) dengan meditasi jalan (caṅkama) dan meditasi duduk (nisajjā) pada siang hari, jaga pertama malam, dan jaga terakhir malam; sedangkan pada jaga tengah malam dilakukan tidur dengan penyadaran penuh dan pemahaman jernih (sato sampajāno) dalam posisi singa (sīhaseyya) disertai niat untuk bangun (uṭṭhānasañña).
  5. Perhatian dan Pemahaman Jernih (sati-sampajañña): Memelihara kesadaran dan kejernihan situasional dalam segala aktivitas dan gerakan fisik.
  6. Penyendirian (vivitta-senāsana): Menempati tempat tinggal yang sunyi dan terpencil, seperti hutan, kaki pohon, atau gua gunung.
  7. Melepaskan Rintangan-rintangan (nīvaraṇa-ppahāna): Mengatasi hasrat indrawi, niat jahat, kemalasan dan kelambanan, kegelisahan dan kekhawatiran, serta keraguan.
  8. Penyerapan Meditatif (jhāna): Mencapai dan berdiam dalam empat tahap konsentrasi yang bertahap.
  9. Penembusan Pengetahuan Akhir (aññā-paṭivedha): Mengembangkan pandangan terang (vipassanā) yang mengarah pada kehancuran total kekotoran batin (āsava) dan realisasi Nibbāna.

Setiap tahap berfungsi sebagai fondasi prasyarat untuk langkah berikutnya, bergerak secara sistematis dari disiplin perilaku eksternal menuju kestabilan mental internal dan pembebasan akhir.[4]

Lihat pula

[sunting | sunting sumber]

Referensi

[sunting | sunting sumber]

Daftar pustaka

[sunting | sunting sumber]
  • Bullitt, John T. (2005). "Dhamma". Access to Insight. Diakses tanggal 2007-11-08.
  • Ñāṇamoli, Bhikkhu; Bodhi, Bhikkhu (2001). The Middle-Length Discourses of the Buddha: A Translation of the Majjhima Nikāya. Boston: Wisdom Publications. ISBN 0-86171-072-X.
  • Nyanatiloka (1980). Buddhist Dictionary: Manual of Buddhist Terms and Doctrines. Kandy, Sri Lanka: Buddhist Publication Society. ISBN 955-24-0019-8. Diakses tanggal 2007-11-10.
  • Thanissaro Bhikkhu (1998). "Kutthi Sutta: The Leper (Ud. 5.3)". Access to Insight. Diakses tanggal 2007-11-12.
  • Walshe, Maurice (1995). The Long Discourses of the Buddha: A Translation of the Dīgha Nikāya. Boston: Wisdom Publications. ISBN 0-86171-103-3.

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]