Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2010

Ke-KOSONG-an itu abadi

Apa yg terjadi denganku, kenapa tiba-tiba aku seperti terjatuh dalam sebuah lubang yg gelap. Kegelapan yg hitam nan pekat, kesunyian yang hampa. Berputar mengelilingiku, mencemooh dan membuatku tak berdaya untuk sekedar menarik ujung-ujung bibir membentuk sebuah senyuman. Ada apa ini, kabut tebal seolah menyelimutiku ... membuatku tak mampu melihat jalan di depan dan membuat sesak dada ini. Syair-syair kekosongan mengalir berirama memenuhi seluruh benakku. Hembusan angin dingin membawa butiran-butiran air terus membelai dan mengelus tapi hanya aku, yang lain tak merasakannya karena tak ada yg bergerak tanda tak adanya angin. Jiwa-jiwa tampak meradang di sekelilingku, menambah kacau semuanya. Aku tak tahu, apa ini semua ... aku hanya tahu bahwa darahku tiba-tiba terpompa dengan cepat. Dadaku berdebar seolah ingin pecah menghamburkan seluruh isinya. Kepala pun tak kalah mengerikan kondisinya, berdenyut-denyut seakan ingin ikut pecah membuat seluruh isi kepalaku berhamburan. ah ... ... .....
... ... ... ... ... ... .

Untuk Ibu

Selamat Hari Ibu Ibu ... kata temanku hari ini hari ibu, meski saya tak tahu kebenaran hari ibu itu dan saya juga tak tahu alasan kenapa hari ini dikatakan hari ibu tapi ketahuilah karena alasan itulah aku tulis surat ini. Ibu ... sebahagian besar teman-temanku memberikan kado yg manis pada ibu mereka. Ada yg memberi benda-benda yang kira-kira disukai oleh ibu mereka. Teman yg mementingkan persoalan harga memberi benda yang harganya mahal sementara teman yg melihat substansi sebuah hadiah tidak mempersoalkan harga banyak diantara mereka yg memberi benda yg harganya murah namun sangat berarti seperti bunga atau coklat. Ada juga teman yg membuat sebuah puisi, sajak, atau sebuah lagu yg didedikasikan khusus untuk ibu mereka. Oh iya, ada juga teman yg memberikan hadiah pada ibu mereka "kebebasan untuk tidak mengerjakan apapun pada hari ibu". Ibu-ibu mereka tentu sangat bahagia menerima persembahan-persembahan anak-anak mereka. Aku, maaf ibu ... bersama surat ini aku juga mengirim...
D ulu memang saya simpatik dengan kalian tapi sekarang tidak lagi. Kalian memang memuakkan, membuat dunia beserta kehidupan di dalamnya jadi kacau balau karena ulah kalian. Cara hidup kalian yang sangat rendah membuat kemarahan jadi sesuatu yg wajar saja muncul, begitupun dengan ketololan kalian akibat dari kerendahan pahaman serta kesadaran kalian ... sungguh bodoh ! Persoalan selera yang rendah pun juga menjadi sesuatu yang sungguh sangat menjengkelkan, selera kalian menyebabkan munculnya sampah-sampah dalam urusan estetika. Sudah semestinya kalian tidak berhak untuk hidup kalau pun mau hidup sebaiknya kalian tidak banyak tingkah, sebaiknya kalian tenang-tenang saya hidup dibawah kekuasaan mereka-mereka yg memang lebih berhak menguasai kalian. Jadi berhentilah mengulang-ulang lelucon tentang kesetaraan, jelas kalian berbeda. Kemiskinan memang adalah kombinasi yg pas dengan kerendahan selera kalian, kemiskinan juga pasangan yg pantas bersanding dengan cara hidup kalian yg memua...

Seperti

Seperti bunga yang kekurangan air ya ... seperti itu lah kira kira Atau mungkin seperti pohon yang tumbang karena tak tertebang ya ... itu sepertinya lebih tepat Tunggu ... Seperti menanti kedatangan Godot ah ... ini kurang tepat Seperti bunga yang kekurangan air mungkinkah ini yang tepat ? ya sudahlah ... anggap saja seperti itu yang tepat tapi ketepatan itu hanya kemungkinan, ingat itu !

Di Simpang Jalan

Hai pak tua ! Bisakah kau menunjukkan padaku jalan pulang. Menurut orang-orang aku tersesat dan sekarang aku tak tahu jalan pulang. Apakah dirimu sebagai orang tua bisa menunjukkan padaku jalan pulang ? Tapi ingat pak tua, jangan sekali-kali bicara moralitas kosong didepanku ! Aku sudah teramat sangat muak dengan semua itu. Kalau cuma persoalan moralitas mending kau tak usah berbicara sepatah kata padaku karena aku jauh lebih pandai membicarakan moralitas dari pada kau. Jadi jika jalan pulang yang kau tunjukkan tidak lebih dari anjuran moralitas maka lebih baik kau segera berlalu dari hadapanku sebelum aku penuhi mukamu dengan muntahku. Tinggalkan saja aku sendiri dalam ketersesatan sebagaimana yang dikatakan orang-orang. Kalau jalan pulang itu adalah moralitas kosong maka aku yakin dan teramat sangat yakin bahwa aku memang tersesat, tersesat dalam kebenaran yang teramat sangat sempurna. Jangan bengong begitu pak tua, ini biasa saja, jadi pergilah !!! … … … Kau … ya … kau anak m...

Mayday ... Mayday ... Mayday ...

29 April, yah hari ini tanggal 29 april dan itu berarti 2 hari lagi tanggal 1 Mei. 1 Mei, Hari Buruh Sedunia ! Entah sudah berapa tahun sejak pertama kali saya tahu bahwa 1 mei itu adalah hari buruh sedunia, aku sudah lupa kapan pertama kali aku tahu kalau hari buruh sedunia itu jatuh pada tanggal 1 mei. Kapan pertama kali saya tahu, saya pikir itu bukan lagi hal penting karena sekedar mengingat dan itu tidak lebih dari sekedar mengenang masa lalu yg jelas-jelas hanyalah basa-basi hidup yg berputar dalam pikiran. Masalah yg penting saat ini adalah keadaan diriku yg telah menjadi bagian langsung dari sistem perburuhan, aku saat ini telah menjadi sebuah bagian terkecil dari pabrik sosial yg telah merangkum dan menjadikan seluruh kehidupan sebagai bagian dari pabrik. Aku sekarang kerja, letih, butuh istirahat, dan rekreasi untuk meredam kemarahan pada sistem yang telah menjadikan seluruh hidupku tak lebih dari bagian dari kerja. Semuanya, ya semuanya. Bahkan istirahat dan rekreasi juga ad...

AMARAH SEORANG PEMBOHONG GILA

Dunia ini hari kehari semakin menjengkelkan, semakin banyak omong kosong yg selalu dipaksakan untuk ditelan. Omong kosong berbau anyir darah dan nanah sisa luka-luka perjuangan sia-sia yang tak berujung. Belum lagi kepalsuan-kepalsuan dari kesenangan semu yang semakin banyak berceceran disetiap jalan-jalan kehidupan bahkan sampai ke lorong-lorong kumuh tak bertuan. Anjing-anjing pun semakin nyaring lolongannya hingga bukan lagi ketakutan atau kengerian yg dihasilkan melainkan kemarahan yang memuncak hingga titik didih yang siap meledak kapan saja. Dunia ini betul-betul semakin mirip dengan orang tua renta yang selalu berkhotbah tentang kebijaksanaan pahamannya hingga mengerdillah anak-anak yang berhasrat liar dalam kerangkeng moralitas yang tak lebih dari budak sebuah hutang sosial warisan leluhur yg diterima tanpa melalui proses penawaran. Sebuah jalan kehidupan yang terus berbicara banyak tentang keterlepasan atas ikatan dunia namun terus pula meratapi dun...

K . E . H . I . D . U . P . A . N

Semalam aku bertemu Rembulan, dan dia berkata padaku bahwa mentari telah meng khianat inya. Pagi tadi aku bertemu Mentari, dan dia bercerita padaku tentang rembulan yg telah me lupa kannya. dua hari yg lalu aku bertemu Kegelapan, dan dia mencurahkan isi hatinya tentang terang yg meninggal kannya, Keesokan harinya aku bertemu Terang, dan dia menanyakan dimanakah kini kegelapan ber ada . Saat ini aku bertemu dengan Diriku dan dia berkata dengan sedih " ah ... kehidupan " lalu dia tertawa terkekeh mencemooh aku

Menjadi Tidak Menjadi

dalam ketiadaan awal dan akhir Bergerak maju ke titik mati meninggalkan diam. Mencapai surga ketiadaan bersama kedirian yg bukan aku. Tak bersayap capai langit tak bertepi, bersatu bersama awan kecil putih dan hitam jadi bagian penghidup bumi yg semakin renta. Seperti awan yg terus bergerak seiring angin dan badai, menjadi bagian dari panasnya terik mentari dan dingin serta basahnya hujan dan badai. Sayap putih dan halus malaikat yg jadi bagian dari diri hancur terburai ... bukan terkoyak terserang tapi terlalu rapuh untuk sekedar memeluk kehidupan dengan sayap yg putih dan halus namun rapuh. Tapi ketak bersayapan justru membuat diri terasa ringan, terbang bebas menjadi satu diantara helai-helai bulu sayap yg melayang dan terbang bebas lepas dari tubuh. Melayang dan terbang bebas tanpa pernah terikat dalam sebuah ketentuan berpola yg kerap membatasi dan menciptakan ke-aku-an yang tak lebih dari sebuah omong kosong peradaban. Menjadi dalam ketiadaan kondisi awalan dan akhiran, karena ...

Sebuah Catatan Refleksi Tahunan Yang Terlambat

Malam tanggal 21 januari 2010. Tanggal 1 januari telah berlalu 20 hari, mungkin belum terlambat* untuk sekedar menegok ke belakang. Malam ini ku coba menguraikan perjalanan hidup yang telah lalu dalam sebentuk peta geografis tiga dimensi imajiner. Terlihat sebuah kepulauan yg sangat kecil akan tetapi jika diperhatikan dengan seksama akan terlihat tanda-tanda daerah pulau yg dulunya berupa bagian daratan pulau namun kini telah terbenam menjadi bagian dari dasar laut. Pulau kecil itu lengkap sebagai pulau, ada bagian yang berbunga, ada bagian yang gersang, ada bagian yang berair jernih, dan ada bagian yang berlumpur kotor dan menjijikkan. Setiap bagian akan terlihat sebagaimana adanya, daerah berbunga, daerah gersang, daerah berair, dan daerah berlumpur. Semua nampak asri dan sudah menjadi bagian-bagian yg saling melengkapi dengan berada di daerahnya masing-masing, tapi coba perbesar gambarnya. Akan terlihat bahwa daerah berbunga tidak lebih dari kumpulan bunga-bunga yg saling berjara...

KARAT - KOIL Album Self Titled

aku berkarat seperti besi setengah mati hidupku belum berarti simpan dalam hati menghisap malam kelam menatap langit jingga terasa sangat gelap terhenyak diam tenggelam dalam gelap terbenam lumpur yang pekat sia sia bohong belaka tua renta hina aku berkarat seperti besi seakan mati hidupku tidak berarti mengubur cita cita tertawa langit jingga tertindas alam kejam terserap hitam kelam terhenyak diam terbenam sia sia terbenam sia sia terbenam sia sia Download Album Self Titled - Koil

KEJUJURAN PENGHABISAN

Ini adalah kalam terakhir yang melesat dari kerongkongan terpicu nafas penghabisan. Meninggalkan seonggok tulang berbalut otot-otot kekar mengokohkan tubuh tuk tetap berdiri kosong. Masih tetap kan selalu berkata-kata dalam sabda kosong kebohongan yang hadirkan sejuta kenormalan bersanding senyum manis nan bahagia para tertipu. Takkan pernah kan kau liat rajah-rajah beralirkan darah laksana bangkai lawan para keluarga pandawa yang tertembus jutaan anak panah arjuna. Cupitlah yg tersenyum, anak panah cupit-lah yang melesat mengenai jantung hingga kematian yang hadir namun tak tampak sebab kepolosan serta keluguan cupit mengabuti kematian dalam cinta kasih seorang ibu pada anaknya. Karena itu nyawa tak pula pernah terlihat meregang sebab tak ada hati yang menerawang jauh wawasan abstark hal tak terindrai. Erangan, rintihan, ringisan, tangisan, sedu sedan tak terdengar atau bahkan untuk sekedar terlihat sebab indra telah lama tertutupi sampah-sampah kehidupan. Sebab indra tak lagi menang...

Ah ... ternyata aku yang terlalu picik

Aku pikir aku yang paling bermasalah, masalahku seolah-olah adalah masalah yang sangat besar. Ternyata aku salah, masalahku sama sekali bukanlah masalah kalaupun masalah itu hanyalah masalah sepeleh yag tidak berarti. Tak ada masalah dalam sesuatu yang tak berasa kalaupun terasa itu hanyalah sebuah kenikmatan dari sebuah rasa sakit yg ternikmati jadi jelas itu bukan masalah kalaupun ingin dipaksakan menjadi sebuah masalah maka itu tidak lebih dari masalah kenikmatan. Aku hanyalah sebongkah bara api yang masih menyala dan sewaktu-waktu dapat saja berubah menjadi api yang berkobar-kobar penuh semangat dan gejolak. Sementara dirimu yg tampak anggun ternyata sebatang lilin yang mencoba terus berpijar dengan melelehkan diri hingga suatu saat padam dan musnah. Berbeda dariku, kau yang bermasalah dan memang kau lah yang lebih pantas bermahkotakan belukar duri kesedih bukannya aku. Hanya saja aku yang terlalu picik untuk sekedar memahaminya dari awal. Kesedihanmu memerlukan lebih banyak lagi k...